Harga Pada Naik, Haruskah Kita Panik?

Akhir-akhir ini, kok, banyak banget pemberitaan harga pada naik, ya? 

Tarif ojek online, naik….

Harga tiket pesawat, naik….

Sampai-sampai, harga makanan favorit kita semua, yaitu mie instan juga kabarnya akan menyusul akan naik.

Hmm, kalau udah begini, kira-kira perlu panik nggak, sih?

Simak artikel ini untuk tahu jawabannya, yuk!

Prediksi Kenaikan Harga

Kenaikan harga sebenarnya sudah lama diprediksi, terutama pada bahan-bahan yang sifatnya impor. Misalnya, gandum dan avtur.

Hal tersebut disebabkan oleh efek perang Rusia dan Ukraina berkepanjangan yang berimbas pula pada perdagangan Indonesia.

Contohnya untuk mendapatkan bahan baku berupa gandum. Indonesia masih mengandalkan impor dari berbagai negara, lho.

Lebih jelasnya terkait mengenai alasan beberapa harga pada naik dapat kamu simak informasinya di bawah ini. 

Kenaikan Harga Mie Instan

Tidak hanya tepung, gandum juga masuk sebagai komposisi utama pembuatan mie instan.

Karena gandum bukan komoditas pangan utama di Indonesia sedangkan kebutuhan akan gandum yang sangat tinggi, mau tidak mau pasokan dari negara lain sangat dibutuhkan.

Melansir dari CNBC Indonesia, konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia mencapai 30,5 kg per tahun.

Sedangkan, di tahun yang sama, konsumsi beras penduduk Indonesia per kapita sebesar 27 kg per tahun.

Kok bisa lebih besar konsumsi gandum dibandingkan beras?

Ternyata, besarnya konsumsi gandum dipengaruhi oleh industri produk pangan olahan yang banyak membutuhkan bahan tersebut. Contohnya untuk memproduksi mie instan, kue, dan roti. 

Pada bulan Juni 2022, International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyebut terdapat beberapa kebijakan restriksi ekspor di beberapa negara.

Hal ini berkaitan dengan pelarangan, izin, dan atau pajak ekspor, salah satunya pembatasan impor gandum. 

Rupanya, langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pangan di negara masing-masing akibat konflik Rusia-Ukraina.

Inilah salah satu alasan mengapa pemberitaan mengenai kenaikan harga mie instan ramai diperbincangkan.

Kenaikan Harga Tiket Pesawat 

Mengenai kenaikan harga tiket pesawat, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno pun turut mengkhawatirkan dampaknya terhadap perjalanan wisata domestik dalam negeri maupun kunjungan wisatawan nusantara.

Menurutnya, dampak dari kenaikan ini akan terasa pada musim puncak pariwisata pada paruh kedua 2022, yaitu saat libur natal dan tahun baru 2023. 

Lantas, kenapa harga tiket pesawat naik?

Ringkasnya, peningkatan ini disebabkan oleh naiknya harga biaya bahan bakar atau fuel surcharge dari 5% menjadi 15%. Kebijakan ini dimuat pula dalam revisi Keputusan Menteri Nomor 142 Tahun 2022 yang berlaku mulai 4 Agustus 2022 lalu. 

Salah satu alasan peningkatan biaya tersebut pada tiket penerbangan adalah harga avtur. Pemerintah mencatat harga avtur telah naik hampir 70% pada tahun berjalan. 

Adapun harga avtur berkontribusi hingga 60% pada harga pesawat terbang. 

Kenaikan Harga Tarif Ojek Online

Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina masih menjadi faktor penting penentu pergerakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal ini berdampak pula pada kenaikan tarif ojek online.

Alasan dari kenaikan tarif ojek online salah satunya adalah menyesuaikan harga BBM. 

Dan sebelumnya, rencana kenaikan tarif ini akan dimulai pada 14 Agustus 2022. Namun, pelaksanaannya ditunda akibat perlunya sosialisasi penyesuaian ojek online yang baru.

 

Lantas, Haruskah Panik?

Manusiawi, sih, kalau kamu panik.

Namun, jangan khawatir-khawatir banget, lah!

Mengapa?

Karena Menurut Bank Indonesia (BI), di Bulan Juli 2022 neraca perdagangan Indonesia menunjukkan angka positif, lho.

Rupanya, berdasarkan laporan tersebut sektor nonmigas $7,23 miliar dolar AS lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu $4,76 miliar dolar AS.

Peningkatan tersebut bersumber dari ekspor komoditas berbasis sumber daya alam dan manufaktur. 

Contoh komoditas SDA yang menyumbang peningkatan ini adalah Crude Palm Oil (CPO) dan batu bara.

Sedangkan contoh komoditas manufaktur yang berkontribusi adalah kendaraan dan pulp dari kayu. Hal ini didukung pula oleh harga global yang masih tinggi.

Sebagai informasi, beberapa negara yang mengalami peningkatan permintaan ekspor nonmigas di antaranya, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Jadi, khawatir boleh saja.

Tapi, jangan panik, ya!

Rasa panik bisa membuat kehebohan di masyarakat dan bisa menyebabkan masyarakat pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi

Mengatasi Kenaikan Harga Dengan Investasi Online

Harga pada naik, penghasilan segitu-gitu aja?

Untuk mengatasi kenaikan harga, setidaknya kenaikan gaji kamu harus betotal kurang lebih 170% dalam 10 tahun terakhir.

Bagi investor pemula, kamu bisa mulai investasi di produk KoinP2P dari KoinWorks. Hanya dengan Rp100 ribu kamu sudah bisa mulai investasi, lho.

Tentunya, dengan berinvestasi peer-to-peer lending akan membantu kamu mengatasi inflasi yang menggerus nilai uang.

Jadi, sekarang waktunya kamu untuk investasi!


Simulasi Pendanaan KoinWorks


Ketahui profil risiko investasi Anda




Profil Risiko

Berdasarkan hasil profiling kami, maka risiko investasi yang cocok untuk Anda adalah dengan imbal hasil hingga .

Jumlah dan Jangka Waktu Investasi

Masukkan jumlah dan jangka waktu pendanaan untuk mensimulasikan diversifikasi dan imbal hasil yang akan kamu dapat.





Rekomendasi Diversifikasi

Dengan modal awal Rp dan tambahan Rp tiap bulan, maka rekomendasi diversifikasimu adalah sebagai berikut:

Dengan imbal hasil sebesar per tahun, setelah tahun maka perkiraan pengembalian uangmu adalah sebagai berikut

Rp,-

Mulai Mendanai

Mulai lakukan pendanaan di aplikasi KoinWorks sekarang dan dapatkan gratis KOIN (dana percobaan) sebesar Rp350.000,- untuk Anda gunakan di KoinP2P

Install Aplikasi KoinWorks




Artikel ini bersumber dari koinworks.com.

Tinggalkan Balasan