Travel  

Gedung Pancasila di Jakarta Pusat

Gedung Pancasila di Jakarta Pusat

cnbc-indonesia.com – Lokasi: Jl. Taman Pejambon No.6, RT.9/RW.5, Senen, Kota Jkt Pusat 10410Maps: Klik DisiniHTM: Rp.5.000 per OrangBuka Tutup: 08.00 – 18.00 WIB (Senin – Jumat), Sabtu – Minggu TutupTelepon: 021 3441508

Di setiap kota di Indonesia tentu memiliki banyak bangunan bersejarah yang memiliki nilai historis terhadap perjuangan bangsa di kala melawan penjajah Belanda.

Seperti di Bandung banyak sekali bangunan heritage. Kemudian di Bogor, Batu Malang, Sintang, Bengkayang Kalimantan Barat, Bangsal, Ketapang Cileungsi dan Demak.

Jakarta memiliki banyak bangunan bersejarah. Hal ini disebabkan kota tersebut dahulu menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda ketika menduduki Indonesia.

Ada banyak bangunan bersejarahyang bisa ditemukan di sin mulai dari Gedung Joeang, Museum Gajah, Gedung Arsip Nasional, Gelora Bung Karno yang dahulu adalah Kompleks Olahraga Ikeda, Toko Merah dan Museum Fatahillah.

Salah satu bangunan bersejarah yang memiliki kaitan erat dengan kisah historis kota Jakarta adalah Gedung Pancasila di daerah Senen Jakarta Pusat.

Gedung tersebut memiliki nilai historis bagi perkembangan Indonesia merdeka hingga sekarang ini.

Sejarah Singkat

Gedung Pancasila terletak di daerah Senen. Berdiri dan diresmikan pada tahun 1830. Desainnya dibuat oleh arsitek Belanda yang bernama J Tromp.

Letak lokasinya dipilih berdasarkan posisi area yang berada di pusat kota. Pada awalnya gedung yang dibangun dengan bentuk dan desain khas kolonal Belanda ini diperuntukkan sebagai rumah bagi Hertog Bernhard.

Setelah menjadi tempat tinggal Hertog Bernhard, gedung ini akhirnya digunakan untuk tempat tinggal bagi komandan tentara kerajaan Belanda.

Menurut informasi dari Kumpulan Sejarah dan juga beberapa arsip nasional, gedung yang beralamat di jalan Pejambon No.6 Jakarta Pusat ini kegunaan serta fungsinya diubah menjadi tempat pertemuan Volksraad atau Dewan Rakyat.

Volksraad merupakan dewan yang ditunjuk oleh pemerintahan Hindia Belanda bersama dengan Gubernur Jendral J.P. van Limburg Stirum dan Thomas Bastiaan Pleyte.

Yang mana ketika itu mereka menjabat sebagai menteri urusan koloni Belanda atau istilahnya menteri luar negeri. Dan gedung ini sempat dijadikan Raad van Indie.

Sebagai Tempat Tinggal

Di kala pemerintah Belanda memimpin kota Jakarta, di beberapa tempat termasuk di Taman Pejambon dan Lapangan Banteng sudah banyak bangunan yang berfungsi sebagai gedung pemerintahan.

Dan salah satu gedung yang digunakan adalah Gedung Pancasila dengan fungsi sebagai Dewan Rakyat tersebut.

Belum diketahui dengan jelas mengenai info sejarahnya Gedung Pancasila dan makna serta tujuan dari pembangunan gedung ini pada awalnya.

Pasalnya, pada saat itu sudah banyak gedung yang difungsikan untuk keperluan pemerintahan kolonial. Gedung yang berbentuk seperti istana zaman kolonial Belanda ini pun menjadi salah satu peninggalan.

Menurut sumber literatur dari Belanda, berdasarkan keterangannya bahwa gedung ini dibangun dan didirikan untuk memberikan kesan prestise kepada pemerintah Belanda.

Dan juga sebagai rumah tinggal bagi komandan dari tentara Belanda yang ketika itu ia merangkap sebagai Letnan Gubernur Jendral.

Seperti yang sudah disebutkan bahwa di sekitar gedung ini sudah ada gedung-gedung lain yang memiliki gaya arsitektur yang cukup kental.

Di sini bisa ditemukan Gereja Immanuel, benteng Pangeran Frederick, stasiun Gambir serta pengadilan tinggi dan juga beberapa universitas.

Sebelum menempati gedung Volksraad ini, ternyata Letnan Gubernur Jenderal terlebih dahulu tinggal di area yang sekarang ini menjadi Gereja Katedral.

Ketika itu ia menjual lahan dan rumah tersebut kepada yayasan Gereja Katolik dengan harga sekitar 20 ribu gulden. Dan isi serta penjelasannya tertuang dalam surat keputusan yang dibuat pada tanggal 5 Desember 1828.

Rumah tersebut beserta isi dan segala macam di dalamnya akhirnya dibongkar, kemudian didirikan sebuah gereja yang megah.

Akan tetapi pada tanggal 9 April 1880 gereja ini tiba-tiba roboh dan hilang serta rata dengan tanah tidak bersisa. Akhirnya dibangun kembali gereja katedral guna menggantikan gereja tersebut.

Gereja katedral ini pada tahun 1901 akhirnya diresmikan. Dengan dijualnya rumah Letnan Gubernur Jenderal membuat pemerintah Belanda membangun rumah di atas taman yang dikenal dengan nama Taman Hertog.

Nama taman ini diambil dari nama seorang Panglima Belanda yang memimpin di periode 1848 hingga 1851 yaitu Hertog van Saksen Weimar. Dan taman ini menjadi cikal bakal Taman Pejambon.

Beralih Fungsi

Pada tahun 1916 komandan Belanda akhirnya pindah ke kota kembang, Bandung. Dan gedung yang semula dijadikan Gedung Volksraad sangat pas dijadikan gedung untuk Dewan Rakyat.

Gubernur Jendral Limburg Stirum akhirnya meresmikan gedung Volksraad ini pada bulan Mei tahun 1918.

Jika melihat dari katalog pameran yang berisi gambar, foto dan keterangan dalam perayaan ulang tahun Batavia ke 300 bisa dikatakan bahwa Volksraad merupakan tempat pertemuan bagi para Dewan Hindia Belanda atau Raad van Indie.

Menurut cerita sejarah bahwa anggota dari Volksraad atau Dewan Rakyat ini terdiri dari 60 orang.

Tiga puluh orang wakil dari rakyat Indonesia yang diantaranya terdiri dari 19 orang yang terpilih langsung dan 25 orang bangsa Belanda serta 4 orang perwakilan dari berbagai golongan seperti Tionghoa dan Arab.

Setidaknya dilakukan 2 kali sidang yang digelar di gedung ini dan biasanya digelar setiap tanggal 15 Mei setiap tahun.

Sementara sidang kedua pada hari Selasa setiap minggu ketiga di bulan Oktober. Selama melakukan sidang, Volksraad mengajukan sekitar 6 rancangan dan hanya 3 yang diterima oleh pemerintahan Belanda.

Dan tidak ada hasil yang memuaskan dari sidang yang dilakukan disebabkan kepentingan-kepentingan di luar pemerintahan.

Gedung Cho Sangi In

Setelah menjadi gedung Volksraad, gedung Cho Sangi In. Badan ini mempunyai tugas guna memberi pertimbangan dan masukan kepada pemerintah pusat di bawah kendali bangsa Jepang terutama di bidang Politik.

Badan ini terdiri dari 43 orang dengan 23 orang merupakan pilihan langsung dari pemerintah pusat. Sementara 18 orang adalah utusan dari tiap residen dan Batavia. Sedangkan 2 orang dari Yogyakarta serta Surakarta.

Gedung ini diubah menjadi gedung Cho Sangi In. Pada tanggal 16-20 Oktober 1943 diadakan sidang dengan bahasa Jepang tentang proses pembentukan 4 komisi guna menjawab pertanyaan Saikou Shikikan untuk meraih kemenangan pada perang Dunia II.

Akhirnya setelah Jepang kalah di Perang Dunia II atau perang Pasifik, gedung Pancasila mulai menjadi milik Indonesia.

Dan Jepang mendirikan Dokuritsu Junbi Chosakai yang memiliki arti sebagai Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau disingkat BPUPKI.

Perubahan Nama

BPUPKI ini akhirnya menempati gedung Volksraad yang digunakan sebagai tempat sidang untuk menuju Indonesia merdeka.

Kapan perubahan nama gedung ini terjadi? Sejarah awal tepat tanggal 1 Juni 1945, Soekarno dan BPUPKI akhirnya menentukan dasar negara.

Dalam rapat tersebut ditentukan Pancasila sebagai dasar negara sehingga nama gedung ini diubah menjadi gedung Pancasila. Selain itu lambang negara juga ditentukan yaitu Burung Garuda.

Gedung Pancasila ini sempat direnovasi walaupun tidak dihancurkan secara total untuk memelihara dan merawat.

Sekarang ini di bawah kendali kementrian luar negeri atau kemlu sebagai penyelenggara acara kenegaraan.

Gedung ini menjadi salah satu bukti sejarah perkembangan Pancasila sebagai dasar selain Graha Pancasila di Pandeglang.

Dan pada Gedung Pancasila tersebut terdapat tulisan Pancasila dan lambang negara raksasa di pintu depan.