Sayonara! Toko Buku Gunung Agung Tutup Akhir Tahun Ini, Miliki Sejarah Panjang Sejak 1953

Sayonara! Toko Buku Gunung Agung Tutup Akhir Tahun Ini, Miliki Sejarah Panjang Sejak 1953

cnbc-indonesia.com – Toko buku Gunung Agung berencana untuk menutup seluruh toko atau outlet miliknya di akhir tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari kerugian operasional yang semakin membengkak. Badai ekonomi membuat perusahaan distributor buku ini terpaksa berhenti beroperasi di tahun 2023.

70 tahun berdiri sejak 1953 bukanlah waktu yang sebentar. Sebagai salah satu perintis toko buku di Indonesia, masyarakat tentu tidak akan melupakan jasa toko buku ini karena telah banyak buku yang dihasilkan dan dijual di toko milik PT GA Tiga Belas ini.

Badai covid-19 turut merontokkan usaha Toko Buku Gunung Agung hingga memutuskan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak kepada 350.000 pekerjanya. Hingga kini hanya tersisa lima outlet saja.

Padahal sejarah berdiri Toko Buku Gunung Agung ini tidaklah mudah. Berawal dari kisah “mencuri buku” sang kakak sebagai modal berbisnis, pendiri Toko Buku Gunung Agung mampu menyulap modal Rp500.000 menjadi outlet-outlet buku yang tersebar di Indonesia

Lewat kejeliannya dalam menemukan peluang bisnis distribusi buku, Tjio Wie Tay atau kemudian lebih akrab disapa Haji Masagung membuka toko pertamanya di Jakarta pada 8 September 1953.

Toko buku pertamanya tersebut beralamat di Jalan Kramat 13, Jakarta. Ia memajang 10.000 buku dengan modal hanya Rp500.000 saja. Di periode tersebut, sedikit sekali toko buku yang mampu menjual belasan ribu buku hingga akhirnya menarik banyak penulis untuk ikut menjual hasil karyanya di toko milik Masagung.

Namun untuk memulai hal tersebut, Tjio Wie Tay tidak mendapatkannya dengan mudah. Sejak ayahnya meninggal pada tahun 1931 atau empat tahun selang kelahiran Tjio, ibunya yang bernama Poppy Nio harus bekerja keras menghidupi Tjio dan tiga saudaranya.

Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent (2012) menceritakan bahwa Poppy Nio sangat berusaha menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda yang mahal. Saat itu Tjio tercatat pernah menempuh pendidikan di Hollandsch-CHineesche School (HCS) di Bogor.

Belum genap di usianya yang ke-20, Tjio mencoba untuk berbisnis rokok bersama dua rekannya yakni Lie Thay San dan The Kia Hoat.

Dengan jeli melihat peluang bisnis, Tjio yang awalnya ingin menjadikan Jalan Kramat 13 sebagai tempat jualan rokok dan bir akhirnya berubah haluan dengan menjual buku. Hal ini seiring dengan tingginya peminat buku di Indonesia.

“Thay San Kongsi” bisnis pertama Tjio dan kedua mulai berdiri di tahun 1948 dengan menjual rokok ketengan sebelum mengalihkan bisnisnya ke bisnis jual beli-buku. Awalnya Tjio menjual buku berbahasa asing yang didapatnya dari orang Belanda kenalannya.

Lima tahun berselang, Tjio yang berinisiatif ingin mengembangkan bisnis bukunya menjadi bentuk firma mendapat penolakan dari kedua rekannya Lie Thay San dan The Kia Hoat. Akhirnya mereka pun pecah kongsi dan ini menjadi awal mula Tjio mendirikan bisnis NV Gunung Agung di Kramat 13.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Tjio memajang sekitar 10.000 buku hanya dengan modal Rp500.000. Tjio atau Masagung berusaha untuk membesarkan perusahaannya dengan mencoba mengundang Presiden Soekarno yang terkenal sebagai penggila buku.

Hingga akhirnya setahun berselang setelah NV Gunung Agung berdiri, ia pun mulai mendapat kepercayaan dari Ir. Soekarno untuk memimpin penerbitan hingga distribusi buku-buku karyanya.

Ia pun gencar melakukan pameran buku dan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Toko Buku Gunung Agung di banyak daerah. Haji Masagung pun melakukan ekspansi bisnis dengan merambah sektor pariwisata dan perhotelan. Bahkan NV Gunung Agung sudah melantai di Bursa Efek Jakarta tahun 1991.

Namun kini Toko Buku Gunung Agung di ambang masa jayanya hingga hanya menyisakan lima outlet saja di Indonesia. Beberapa tokonya seperti di Bekasi, Jakarta, Surabaya, Gresik hingga Semarang sudah banyak yang tutup. Sayonara Toko Buku Gunung Agung ! Riwayatmu telah berjasa untuk banyak orang.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kabar Cirebon dengan judul ” Toko Buku Gunung Agung Bakal Tutup! Sejarahnya Unik : Dipercaya Bung Karno Berawal Curi Buku Buat Beli Rokok “.***