Ratusan Petani di Kalteng Ikuti Program Bertani Tanpa TBTK, Hasil Panen Sangat Memuaskan

Ratusan Petani di Kalteng Ikuti Program Bertani Tanpa TBTK, Hasil Panen Sangat Memuaskan

Salah seorang petani yang tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi yang digagas oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui Katingan Mentaya Project (KMP). Foto: Dok Sekolah Tani Agroekologi

jpnn.com, SAMPIT – Kesadaran masyarakat untuk membuka lahan dan bercocok tanam secara ramah lingkungan, makin meningkat di desa-desa seputar sungai Katingan dan Mentaya, Kalimantan Tengah.

Dengan total lahan garapan seluas sekitar 780 hektare, para petani itu tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi yang digagas oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui Katingan Mentaya Project (KMP).

Ini merupakan inisiatif restorasi dan konservasi ekosistem hutan gambut seluas 157.875 hektare di Kalimantan Tengah.

Aliansyah, seorang petani sayur dan buah dan peserta program Sekolah Tani Agroekologi, ialah salah satu contoh petani yang sudah menikmati keuntungan dari hasil panen pertanian organik yang dipraktikkannya.

Ditemui di kebunnya di Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, tempatnya bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain, Aliansyah mengungkapkan pengalamannya setelah ikut serta dalam program Sekolah Tani Agroekologi.

Sebelum 2020, ia bercocok tanam secara nonorganik dan hasil yang dipeoleh jauh dari harapan. Kondisi tanah yang rusak akibat bahan kimia yang dipakai terus menerus menyebabkan modal yang harus ia keluarkan untuk perawatan mencapai lebih dari dua kali lipat dari hasil panen waktu itu. Saat hampir menyerah, ia diperkenalkan pada program STA oleh PT RMU dan diajak mengikuti temu lapangan di Desa Kelampan.

“Di sana, saya melihat sendiri hasil dari para petani yang menerapkan praktik pertanian tanpa bakar dan tanpa kimia dengan panen yang sangat memuaskan. Saya pun tertarik untuk ikut serta program ini. Ternyata, hasil yang saya peroleh sangat baik. Yang paling memuaskan yaitu panen jeruk. Dalam tiga bulan saya bisa memanen satu ton jeruk. Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim,” urainya.

Aliansyah memaparkan, satu kunci sukses dalam teknik bertanam TBTK yaitu perawatan ekstra di awal untuk mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia yang digunakan sebelumnya.

Satu kunci sukses dalam teknik bertanam TBTK yaitu perawatan ekstra di awal untuk mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia.


Artikel ini bersumber dari www.jpnn.com.

Tinggalkan Balasan