Perguruan tinggi dilibatkan di proyek kereta cepat dan LRT

Perguruan tinggi dilibatkan di proyek kereta cepat dan LRT

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melibatkan perguruan tinggi di Indonesia dalam pembangunan proyek strategis nasional kereta cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek. Hal tersebut disampaikan Menhub Budi Karya Sumadi usai meninjau Laboratorium Transportasi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (29/7).

Budi mengatakan, perguruan tinggi dilibatkan untuk mendampingi Kemenhub dalam melakukan review atas kesiapan operasi dari kedua proyek transportasi publik tersebut. Selain memiliki kualitas konstruksi yang baik, Budi ingin kereta cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek memiliki standar pelayanan dan keselamatan prima saat beroperasi nantinya.

“Zero accident harus menjadi prinsip utama kita , apalagi dua proyek ini sarat teknologi baru. Oleh karenanya saya datang ke laboratorium ini untuk mengundang langsung keterlibatan UGM dan ITB menjadi tenaga ahli pendamping Kementerian Perhubungan dalam melakukan review akan kesiapan operasi LRT jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta Bandung bersama konsultan Crossrail International yang ditugaskan dari Department for Transportation Inggris,” kata Budi seperti dikutip dari siaran pers di situs resmi Kemenhub, Jumat (29/7).

Budi berharap kedua proyek tersebut memiliki kualitas seperti kereta cepat Shinkansen yang beroperasi di Jepang. Budi meyakini Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam bidang transportasi.

“Kereta MRT Indonesia sudah memiliki pengalaman, termasuk KAI juga sudah punya pengalaman di LRT. Oleh karena itu, baik LRT maupun kereta cepat harus berhasil dan zero accident,” ujarnya.

Sementara, Dekan Fakultas Teknik UGM Prof. Ir. Selo mengapresiasi langkah Kemenhub untuk melibatkan perguruan tinggi di Indonesia dalam proyek pembangunan infrastruktur transportasi. Menurut Selo, hal ini menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi pada pembangunan infrastruktur transportasi, khususnya teknologi sektor perkeretaapian.

“Terima kasih kesempatan yang diberikan Kementerian Perhubungan untuk masuk ke dunia perkeretaapian. Kami selama ini mungkin kurang area bermain, kurang masuk kesana, tentu hal ini menjadi suatu kesempatan yang luar biasa agar kami dapat berkontribusi membangun kemandirian teknologi,” ujar Selo.

Dengan adanya keterlibatan ini, lanjut Selo, diharapkan langkah ini akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk tidak lagi bergantung dengan teknologi luar negeri ke depannya.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.

Tinggalkan Balasan