Bisnis  

Pengaruh Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Perusahaan

Pengaruh Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Perusahaan

cnbc-indonesia.com – PENDAHULUAN

Persaingan pasar kini semakin ketat, tercermin pada prinsip pasar bebas maka perusahaan sekarang dipaksa oleh pasar bebas untuk dapat membuat banyak kemungkinan untung untuk tetap mengalami kemajuan dalam perusahaan. Hal tersebut memicu pada sebagaimana perusahaan harus dapat mengelola dan mengoprasikan segala segmen yang terlibat dalam perusahaan dengan baik. Suatu pengaruh terbesar untuk dapat mengelola dan mengoprasi dengan baik tertumpu pada tingkat sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurut Hamid dan Rowi dalam (Kurniawan, 2018), parakaryawan dituntut untuk dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya secara profesional, bekerja keras, disiplin, jujur, loyalitas tinggi, dan penuh dedikasi untuk keberhasilan pekerjaannya. Bukanlah manusia secara utuh yang disebut sebagai aset, namun kemampuan jasa yang dimiliki oleh manusia yang tersedia dan sesuai dengan kebutuhan perusahaanlah yang disebandingkan dengan aset. Sumber daya manusia tidak hanya diikutsertakan dalam filosofi perusahaan melainkan pada perencanaan strategis. Arti penting keberadaan sumber manusia sebagai aset dalam perusahaan telah mendorong munculnya penelitian-penelitian tentang human resource accounting (HRA) atau akuntansi sumber daya manusia di banyak negara, termasuk di Indonesia sendiri.

PSAK No. 19 menyebutkan bahwa aset adalah sumber daya yang dikendalikan oleh entitas sebagai akibat peristiwa masa lalu, dan manfaat ekonomis di masa depan dari aset tersebut diharapkan diterima oleh entitas. Dari pengertian aset ini saja, tentu dirasa sulit untuk mengklasifikasikan sumber daya manusia sebagai aset perusahaan karena tidak memenuhi beberapa kriteria aset. Kesulitan tsb antara lain pada saat harus melakukan pengukuran terhadap nilai moneternya. Sejauh ini, pengukuran terkait sumber daya manusia diatur dalam PSAK No. 57 tentang kewajiban diestimasi, kewajiban kontijensi, dan aktiva kontijensi. Dalam aturan ini PSAK mewajibkan perusahaan mengestimasi kewajiban kontijensinya termasuk pemberian pesangon, penghargaan masa kerja, dan ganti rugi karyawan (Widiyanti et al., 2018).

Kompetensi merupakan landasan dasar karakteristik seseorang dalam berperilaku atau berpikir, menyamakan situasi, dan mendukung untuk periode waktu cukup lama. Menurut Spencer dan Spencer (1993), ada lima karakteristik kompetensi yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu, motives, traits, self-concept, knowledge, dan skills (Callista, 2016). Faktor-Faktor tersebut antara lain, komitmen individu terhadap pencapaian tujuan hidupnya (motif), kedisiplinan, konsep diri, peran sosial, mutu mentor, keharmonisan hubungan keluarga. Dari semua pembentuk kompetensi, komitmen dalam menggapai tujuan hidup seseorang (motif) adalah yang paling kuat menentukan tingkat penguasaan kompetensi seseorang yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerjanya. Maka dari itu kompetensi karyawan dapat digunakan untuk memprediksi siapa karyawan yang memiliki kinerja yang baik dan kurang baik atas dasar standar yang digunakan.

Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Karyawan yang memiliki kinerja yang baik adalah karyawan yang memiliki kualitas kerja yang baik, kuantitas kerja yang besar, sikap baik atau ramah, dapat diandalkan, berinisiatif, rajin, selalu hadir dalam bekerja dan memiliki potensi untuk maju. Pada akhirnya, karyawan yang memiliki kinerja yang baik dapat menciptakan daya saing bagi perusahaan, karena dapat beraktivitas sesuai target yang ditetapkan. Keunggulan-keunggulan tersebut yang dapat membuat perusahaan memenangkan persaingan dan memuaskan para pelanggan. Sebaliknya, karyawan yang tidak memiliki kinerja yang baik justru menjadi beban bagi perusahaan karena banyak pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan pada waktu yang ditetapkan, harga jual semakin tinggi, konsumen atau pelanggan menjadi kecewa, dan pada akhirnya konsumen atau pelanggan pindah ke perusahaan pesaing.

Dalam praktiknya saat ini, penyajian berbagai informasi seputar sumber daya manusia masih bersifat sukarela penyampaiannya (voluntary disclosure), dan biasanya diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan (Almilia, 2008). Penjelasan mengenai pengungkapan sukarela dalam SAK No.1 paragraf 12 adalah sebagai berikut : Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporankeuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna informasi yang memegang peranan penting.

PEMBAHASAN

Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan sehingga mempengaruhi seberapa banyak kontribusi mereka kepada instansi atau organisasi termasuk pelayanan kualitas yang disajikan. Peningkatan kinerja adalah cara perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan agar tujuan perusahaan dapat tercapai, agar strategi peningkatan kinerja tersebut dapat berhasil maka perusahaan perlu mengetahui sasaran kinerja. Untuk dapat bersaing dengan industry sejenis lainnya, perusahaan harus mempunyai keunggulan kompetitif yang sangat sulit ditiru, yang hanya akan diperoleh dari karyawan yang produktif, inovatif, kreatif, bersemangat dan loyal. Salah satu yang memenuhi kriteria seperti itu hanya akan dimiliki melalui pengembangan sumber daya manusia yang tepat dengan lingkungan kerja yang mendukung. Faktor-faktor yang digunakan untuk meningkatkan kinerja karyawan diantaranya kemampuan individual (pengetahuan, keterampilan, kemampuan), usaha yang dicurahkan, dan dukungan organisasional. Kinerja karyawan yang merupakan hasil olah pikir dan tenaga dari seorang karyawan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, dapat berwujud, dilihat, dihitung jumlahnya, akan tetapi dalam banyak hal hasil olah pikiran dan tenaga tidak dapat dihitung dan dilihat, seperti ide-ide pemecahan suatu persoalan, inovasi baru suatu produk barang atau jasa, bisa juga merupakan penemuan atas prosedur kerja yang lebih efisien.

Kinerja karyawan dapat diartikan sebagai prestasi kerja, yakni hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Secara teoretis, faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Kemampuan merupakan determinasi dari pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill), sedangkan, motivasi terbentuk dari sikap (attitude) dalam menghadapi situasi (situation) kerja.

Maka dari itu kompetensi sangat diperlukan dan seharusnya perusahaan memilih karyawannya dengan kompetensi yang sesuai dengan standart perusahaan agar tercapainya tujuan perusahaan.

KESIMPULAN

    Pemimpinan berpengaruh langsung, positif, dan signifikan terhadap kelangsungan kinerja serta efektifitas dan efesiensi kinerja perusahaan

    Pengembangan sumber daya manusia berpengaruh langsung, positif, dan signifikan terhadap keberhasilan kinerja perusahaan

    Pemimpinan berpengaruh langsung, positif, dan signifikan terhadap motivasi kerja karyawan terhadap keberhasilan kinerja yang baik