Pak Tua di Lamongan Penista Anak Yatim Piatu Ditahan Usai Nikahkan Anaknya; Sempat Berkilah Sakit

Pak Tua di Lamongan Penista Anak Yatim Piatu Ditahan Usai Nikahkan Anaknya; Sempat Berkilah Sakit

SURYA.CO.ID, LAMONGAN РKeadilan akhirnya datang gadis yatim piatu di bawah umur yang menjadi korban penistaan seksual AK (58) di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Jumat (29/7/2022), Penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lamongan menjebloskan AK ke dalam tahanan atas perbuatannya yang membuat korban hamil dua bulan.

Penahanan AK menjadi akhir kebebasannya, karena setelah pemeriksaan sebelumnya ia memang belum ditahan. Apalagi beberapa waktu lalu, ia membawa bukti surat pemeriksaan dari dokter bahwa ia harus beristirahat karena sakit.

Tetapi sepekan kemudian, atau Jumat ,(29/7/2022) ini, AK diminta penyidik untuk diperiksa dan disambung hasil pemeriksaan laboratorium. Dan AK dinyatakan sehat sehingga sesuai pertimbangan yuridis maka ia layak ditahan.

“Tadi diperiksakan di RSUD dr Soegiri, hasil labnya sehat. Makanya hari ini (Jumat) langsung ditahan,” kata Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda Anton Krisbiantoro kepada SURYA, Jumat (29/7/2022).

Sekitar pukul 15.00 WIB tersangka dimasukkan ke dalam jeruji besi tahanan polres dan harus menanggalkan jaket serta celana panjangnya. Saat hendak ditahan, tersangka masih berkilah sakit. Pengakuan itu tentu berbeda dengan hasil pemeriksaan dokter RSUD dr Soegiri.

Hasil pemeriksaan itu juga dibacakan di depan tersangka, kesimpulannya, tersangka dalam keadaan sehat. Kini AK harus merasakan waktu dalam sel tahanan polres sampai menunggu BAP dinyatakan P21 (sempurna) oleh Kejari Lamongan.

Ini memang hasil yang adil untuk korban perbuatan AK. Padahal Rabu (28/7/2022) lalu, AK masih bisa menggelar hajatan pernikahan anaknya. Tetapi sekarang ia harus mempertanggungjawabkan perbuatan tidak senonoh yang merusak masa depan anak di bawah umur.

Diberitakan sebelumnya, AK ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik memiliki bukti yang cukup kuat. Semula pada proses pemeriksaan, tersangka AK mengelak kalau ia mencabuli korban hingga hamil 2 bulan sesuai hasil pemeriksaan dokter.

Penetapan tersangka terhadap AK oleh penyidik didasarkan pada bukti yang cukup kuat atas kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Korban adalah pembantu dari anak tersangka yang membuka usaha di Lamongan. Setiap hari usai bekerja, korban tidak pulang ke tetapi tidur di rumah tersangka.

Sementara istri tersangka biasa tidur di ruang depan yang juga dijadikan tempat usaha. Faham betul istrinya jarang masuk ke rumah induk, tersangka mulai mencoba masuk ke kamar korban. Dan sudah tiga kali perbuatan laknat itu dilakukan saat tengah malam sekitar pukul 24.00 WIB.

Pengakuan korban, perbuatan itu dilakukan AK sampai tiga kali, hingga korban mengandung keturunan dua bulan. Tersangka dijerat Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.

Tinggalkan Balasan