Suara.com – Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengaku tidak menerima surat desakan mundur sebagai ketum yang telah dilayangkan oleh petinggi majelis di DPP PPP.

Suharso kemudian menganggap tidak perlu merespons adanya desakan mundur yang tertuang melalui surat.

“Nggak perlu saya respons, saya enggak terima suratnya,” kata Suharso di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (29/8/2022),

Suharso menilai desakan mundur terhadap dirinya tersebut juga tidak sesuai mekanisme.

Baca Juga:
Terpopuler: Rumah Ferdy Sambo Dapat Kiriman Karangan Bunga, Lift Jatuh dan Tewaskan Karyawan Toko Gorden di Pasar Baru

“Itu nggak sesuai mekanisme saja,” kata Suharso.

Sebelumya Suharso sudah buka suara perihal adanya desakan bagi dirinya untuk mundur dari orang nomor satu di partai. Suharso lantas mengaku sudah menyampaikan permintaan maaf ke pihak internal PPP.

Suharso didesak untuk mundur karena ceritanya soal ‘amplop kiai’ di acara yang digelar di KPK. Ia mengaku sudah menjelaskannya ke pihak internal.

“Saya juga bahkan sudah menyatakan permohonan maaf saya. Mungkin cara memberi contohnya enggak pas,” kata Suharso di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (25/8/2022).

Suharso juga mencoba untuk meluruskan atas apa yang disampaikannya saat berpidato tersebut. Dalam kesempatan itu, ia sempat bertemu sejumlah tokoh semisal Wakil Ketua Majelis Syariah PPP KH Afifudin Muhajir.

Baca Juga:
Petinggi PBNU Nilai Kepercayaan Pesantren ke PPP Berkurang Gara-gara Suharso Sebut Amplop Kiai Money Politic

Menurutnya, Afifudin menanggapi penjelasannya dengan baik. Sebab, dari yang awalnya suuzan, Afifudin menjadi memahami atas maksud dari ‘amplop kiai’ yang disampaikan Suharso.


Artikel ini bersumber dari www.suara.com.