Energi baru terbarukan bukan pilihan tetapi keharusan

Jakarta (ANTARA) – DPR RI akan terus mendorong pemerintah mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) mengingat pentingnya keberadaan energi bersih tersebut bagi masa depan Indonesia.

“Kenapa kita harus masuk kepada energi baru terbarukan? Karena fosil sudah jadi masalah. Energi baru terbarukan bukan pilihan, tetapi keharusan, kalau bangsa ini mau selamat,” kata Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto dalam seminar nasional bertajuk “Patriot Energi 2022” yang dipantau di Jakarta, Senin.

Sugeng menjelaskan Indonesia memang masih memiliki sumber daya energi fosil yang cukup banyak, namun jumlah itu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan baru, maka minyak bumi yang dimiliki Indonesia sekitar 6,57 miliar barel, hanya mampu bertahan selama 9,5 tahun dan gas bumi yang mencapai 100 triliun kaki kubik, juga hanya cukup untuk 30 tahun.

Untuk batu bara, cadangan nasional yang tersedia masih cukup besar yakni sekitar 183 miliar metrik ton atau cukup memenuhi kebutuhan hingga 70 tahun ke depan.

Sugeng mengatakan situasi politik dan ekonomi global yang bergejolak dalam satu tahun terakhir telah menyebabkan harga energi naik signifikan dan Indonesia sebagai negara importir, terutama minyak dan elpiji, merasakan dampak secara langsung.

“Minyak hari ini justru menyebabkan masalah ekonomi yang luar biasa. Ini kontroversi antara dinaikkan subsidi atau dikurangi subsidi dengan menaikkan harga (BBM) atau tidak,” ujarnya.

Meski demikian, lanjutnya, Indonesia masih beruntung karena komoditas batu bara dikontrol oleh pemerintah yang membuat fluktuasi harga batu bara di pasar domestik tidak sekuat harga global.

Dari total 71 gigawatt listrik di Indonesia, sebanyak 67 persen dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan bahan bakar batu bara.

Pada 2022, konsumsi batu bara nasional kurang lebih 138 juta metrik ton. Angka kebutuhan itu cukup dengan kebijakan domestic market obligation (DMO) 25 persen dari produksi nasional sebanyak 660 juta metrik ton.

Indonesia juga mengembangkan domestic price obligation (DPO) untuk mengendalikan harga batu bara yang membuat harga listrik tetap murah. Padahal, harga pasar batu bara yang dikonsumsi oleh PLN untuk menggerakkan PLTU sudah naik lima kali lipat.

Batu bara yang digunakan PLN adalah batu bara dengan GAR 4.600 kkal/kg dan berada pada kisaran harga 46 dolar AS per ton. Sedangkan, harga batu bara dunia sudah mencapai angka 230 dolar AS per ton untuk jenis 4.600 kkal/kg.

“Energi baru terbarukan bukan pilihan tetapi keharusan. Kami sekarang mendorong habis-habisan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan yang akan menjadi payung hukum bagi perkembangan ekonomi energi baru terbarukan,” ujar Sugeng.

Baca juga: Komisi VII DPR RI kampanyekan EBT untuk penyelamatan perekonomian

Baca juga: Komisi VII DPR bawa RUU EBT ke rapat paripurna pekan depan

Baca juga: Dyah Roro Esti: G20 jadi momentum dorong percepatan transisi energi RI

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.