cnbc-indonesia.com – Pemerintah terus berupaya untuk menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini cukup mencekik keuangan negara. Salah satunya melalui pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho mengatakan pengembangan mobil listrik di Indonesia menjadi salah satu opsi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

Pasalnya, dengan kapasitas produksi baterai pada 2024 yang diperkirakan akan mencapai 10 Giga Watt hour (GWh), paling tidak akan menghasilkan mobil listrik sebanyak ratusan ribu dan sepeda motor listrik jutaan. Dengan begitu, impor BBM diperkirakan dapat ditekan hingga 30 juta barel per tahun.

“Pengurangan impor BBM sekitar 29-30 juta barel per tahun karena kita konversi dari penggunaan BBM. Jadi angka ini signifikan. Ini penting selain dari hilirisasi nikel, tapi juga transisi energi dan juga lingkungan dampaknya signifikan,” kata Toto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (12/9/2022).

Selain itu, melalui ekosistem kendaraan listrik ini, menurutnya kontribusi pengurangan terhadap emisi gas rumah kaca bisa mencapai 9 juta metrik ton per tahun. Hal tersebut tentunya cukup penting bagi keberlangsungan lingkungan.

Oleh sebab itu, menurutnya penguasaan teknologi saat ini juga menjadi fokus perusahaan dalam pengembangan baterai untuk kendaraan listrik. Meski demikian, IBC sendiri telah mempunyai prototipe baterai untuk motor listrik.

“Kami di sini sudah kembangkan prototipe baterai buatan kami sendiri. IBC sudah ada dan juga untuk two-wheels EV,” ujarnya.