cnbc-indonesia.comDikutip dari , kekerasan seksual ini terjadi pada anak berusia 12 tahun. Pelaku dari kekerasan seksual tersebut adalah ayah tiri dari anak tersebut.

Awalnya anak yang menjadi korban kekerasan seksual di Tangerang ini melaporkan kejadian yang terjadi pada ibunya. Sebagai seorang ibu kandung, tentu timbul rasa sakit dan berusaha untuk tetap melindungi anaknya.

Akhirnya langkah yang diambil oleh ibu korban untuk melindungi anaknya dengan melaporkan tersangka pada 6 Januari 2022 ke Polres Tangerang .

Penyelidikan polisi berlangsung menangani kasus kekerasan seksual tersebut. Sempat kabur ketika hendak ditangkap polisi, akhirnya pada 2 September tersangka tertangkap di Denpasar. Tersangka langsung dibawa ke Polres Tangerang dan langsung ditahan.

Pada kasus serupa, Artis Merdeka Sirait selaku ketua Komnas Perlindungan Anak menyatakan bahwa kejahatan seksual adalah kejahatan luar biasa yang seharusnya tidak boleh ditolerir dan Komnas Perlindungan Anak mendorong seluruh lapisan masyarakat membantu memutus rantai kasus serupa.

Seorang anak seharusnya dilindungi dari segala macam ancaman baik menyerang secara fisik ataupun verbal. Terutama di lingkungan rumah yang merupakan tempat pertama seorang anak tumbuh dan berkembang. Seorang anak seharusnya bisa terjamin keselamatannya dari tindakan kekerasaan yang berpotensi menyebabkan trauma.

Artis Sirait juga menjelaskan tidak ada pembenaran terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan anak baik itu dari internal keluarga ataupun eksternal sekalipun.

“Kekerasan anak merupakan kejahatan yang tidak boleh ditoleransi oleh akal sehat manusia,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri angka kekerasan anak cukup tinggi, dibuatlah Pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang PERPPU Nomor Tahun 2016 yang gunanya untuk menghukum tersangka tindakan kriminal kekerasan anak dengan hukum pidana penjara selama 15 tahun atau dan membayar denda maksimal Rp5 milyar.

Seorang anak yang dalam masa tumbuh kembangnya mengalami kekerasan akan menimbulkan trauma dimasa depan. Ada dampak lain dari trauma tersebut biasanya seorang anak akan cenderung diam, merasa takut, marah, merasa bersalah, cemas bahkan sangat sedih.

Apalagi masyarakat selalu memandang rendah korban pelecehan seksual dan masyarakat juga memberikan label buruk atau stigma negatif di masyarakat. Tak jarang korban pelecehan seksual juga dikucilkan di lingkungannya dan kebiasaan seperti ini sulit dihentikan. (Anggita Adi Sumadi)***