cnbc-indonesia.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan situasi perekonomian global saat ini begitu dinamis. Saat ini dan di tahun depan, menurut dia seluruh dunia dihadapkan pada situasi yang sulit.Sri Mulyani bilang, selama pandemi Covid-19 terjadi hampir 2,5 tahun, banyak sekali dilakukan restriksi dari movement dan mobilitas, maka supply side perekonomian mengalami dampak. Dalam pemulihan demand side itu jauh bisa lebih pulih lebih cepat dibandingkan respon dari daerahnya.“Sehingga hampir seluruh negara di dunia dihadapkan pemulihan, demand consumption, ekspor, dan extend investasi bergerak jauh lebih cepat, yang meminta supply barang dan jasa. Sementara barang dan jasa tidak merespon dengan cepat,” jelas Sri Mulyani dalam rapat kerja Komisi XI DPR, Rabu (31/8/2022).

Sehingga pemulihan sejak 2021, kata Sri Mulyani negara maju terutama Amerika Serikat, terutama dari disrupsi persediaan ditambah fiskal moneter, yang mengembalikan demand side menyebabkan inflasi merangkak sangat cepat.Di tengah inflasi yang merangkak naik, kemudian terjadi geopolitik yang tidak menguntungkan, perang di Ukraina dan Rusia, yang merupakan lumbung dari pangan dan energi. “Ini menambah disrupsi dari supply saat demand mulai meningkat,” ujarnya.Respon kebijakan moneter di negara maju dengan pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan demand side, dampaknya pelemahan ekonomi.

“Kenaikan suku bunga dan tightening liquidity akan menyebabkan krisis utang, di atas 60% atau bahkan 100% dan revolving atau refinancing risk tinggi,” jelas Sri Mulyani.“Emerging market dihadapkan pada implikasi kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas di negara maju seperti AS dan Eropa dalam bentuk terjadi capital outflow,” kata Sri Mulyani melanjutkan.