cnbc-indonesia.com – Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi “raja” baterai kendaraan listrik dunia. Hal ini diawali dengan pengembangan hilirisasi nikel yang merupakan salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) dan pembangunan ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

Namun demikian, cita-cita untuk menjadi “raja” baterai EV ini tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, Indonesia harus mengimpor bahan baku yang tidak dimiliki, yakni lithium.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho mengatakan, sekalipun Indonesia kaya raya akan nikel, namun hal tersebut rupanya belum cukup menjadikan Indonesia sebagai “raja” baterai dunia. Mengingat, terdapat dua komponen bahan baku baterai yang tidak dimiliki RI, yakni material lithium dan graphite.

“Di Indonesia kita kaya dengan nikel, namun ada dua komponen utama yang harus kita impor. Pertama adalah lithium, kedua adalah baterai untuk anodanya, bahannya itu kayak graphite.. Katoda itu terdiri dari 80% oleh nikel, 10% lithium, 10% dari kobalt atau mangan,” ungkap Toto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (12/9/2022).

Meski begitu, Toto mengatakan pihaknya tengah mengupayakan pengembangan teknologi pembuatan baterai listrik tanpa harus bergantung pada lithium ke depannya. Dengan begitu, Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan baku impor.

“Ini riset kita lakukan bagaimana kita tidak tergantung lithiumnya atau kobalt ataupun dari graphitenya,” kata dia.

Namun, menurutnya terdapat opsi juga untuk melakukan akuisisi tambang di luar negeri, terutama tambang-tambang yang mempunyai potensi besar mineral lithium. Dia menyebut, sejumlah negara yang kaya akan lithium antara lain Australia, Amerika Selatan, dan Afrika.

“Kita harus bersiap-siap untuk mencari kalau memungkinkan tambang di luar yang litthium kita akuisisi itu solusi mungkin yang paling benar kalau kita dari segi baterai kami bisa mengurangi ketergantungan dari lithium dan graphite,” kata dia.

Toto menyebut kapasitas produksi baterai pada tahun 2024 akan mencapai 10 Giga Watt hour (GWh). Adapun dari kapasitas tersebut, setidaknya dapat menghasilkan produksi ratusan ribu mobil listrik dan jutaan sepeda motor listrik.

“Dari 10 GWh ini cukup signifikan karena dapat menghasilkan cukup hampir 3-4 juta two-wheels EV dan sekitar hampir 100 ribu roda empat,” kata Toto.

Meski begitu, periode yang paling penting bagi Indonesia adalah pada 2025-2026, dimana pada tahun tersebut RI bakal memproduksi baterai secara masal dengan bahan baku nikel dari dalam negeri. Sementara sebelum periode tersebut, bahan baku untuk pembuatan baterai masih mengandalkan impor termasuk nikel.