cnbc-indonesia.com – Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) PurwokertoDr Sulyana Dadan, MA, menilai Pertemuan Tingkat Menteri bidang Kebudayaan (Culture Ministers’ Meeting/CMM) G20 yang digelar di Kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dapat menjadi ajang untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia.

“Terkait dengan ajangCMM G20 di Borobudur, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, itu bisa sebagai ajang promosi tentang kebudayaan yang ada di Indonesia,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin.

Dalam hal ini, kata dia, di Indonesia banyak sekali kebudayaan yang bisa diperkenalkan kepada para delegasi CMM G20 dan dipromosikan sebagai ajang wisata.

Kemudian yang kedua, lanjut dia, kegiatan CMM G20 itu juga sebagai ajang rekognisi atau pengakuan bahwa di Indonesia banyak kekayaan budaya yang melimpah dan mungkin sampai sekarang bagi sebagian orang dianggap tidak penting.

Menurut dia, kebudayaan semestinya harus dijadikan sebagai salah satu pilar utama dalam pembangunan di Indonesia.

“Dan yang ketiga, menurut saya penting, yakni sebagai introspeksi,” kata dosen jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed itu.

Sulyana mencontohkan ketika ada kegiatan-kegiatan yang digelar oleh para pelaku budaya yang notabene merupakan para penghayat atau siapa pun namanya, pemerintah atau siapa pun yang selama ini cenderung “menganaktirikan” mereka harus introspeksi.

Menurut dia, hal itu disebabkan sampai sekarang di tingkat bawah masih banyak pelaku atau pegiat budaya yang kesulitan untuk eksis dan mendapatkan perlakuan-perlakuan yang tidak semestinya meskipun banyak sekali kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengadvokasi mereka.

“Misalnya, ketika teman-teman penghayat mengurus administrasi kependudukan, mungkin aturannya sudah ada, tetapi di tingkat bawah enggak semulus yang dibayangkan,” kata dosen pengampu mata kuliah Kearifan Lokal dan Sumber Daya Pedesaan itu.

Akan tetapi secara umum, dia menyambut baik kegiatan-kegiatan atau apa pun yang terkait dengan kebudayaan terutama yang bisa dijadikan sebagai ajang promosi, rekognisi, dan interospeksi bagi semua pihak.

Lebih lanjut, dia mengatakan realisasi dana global untuk akselerasi pemulihan dampak pandemi COVID-19 pada bidang seni dan budaya seperti yang disuarakan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sangatlah penting dilakukan karena proses pemulihan memerlukan banyak faktor, banyak tangan, perlu kerja sama, dan lain-lain.

“Jadi kalau misalnya itu gol, paling tidak kita bisa bergandengan tangan untuk bersama-sama memperbaiki atau melakukan rehabilitasi ke arah progres yang lebih bagus. Menurut saya, CMM G20 menjadi semacam stimulator atau pemicu bagi kita semua untuk bersama-sama ke arah rehabilitasi,” demikianSulyanaDadan.