Investor Bersiap Hadapi Konsekuensi Terburuk jika Kesepakatan Plafon Utang AS Tak Tercapai

Investor Bersiap Hadapi Konsekuensi Terburuk jika Kesepakatan Plafon Utang AS Tak Tercapai

cnbc-indonesia.com – WASHINGTON, Investor bersiap menghadapi konsekuensi terburuk dari belum tercapainya kesepakatan antara Gedung Putih dan Parlemen Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan plafon utang. Ini menjadi momok menyeramkan bagi para investor karena volatilitas mata uang dan kerugian di pasar saham akan terjadi jika kesepakatan tersebut tidak tercapai pada 1 Juni 2023.

Spesial Brand Festival! Selected Product diskon s/d 40%|Mall FLASH SALE|Dapatkan Cashback Spesial s/d 50%

Ahli strategi Commonwealth Bank of Australia di Sydney, Carol Kong mengatakan, ketidakpastian ini akan menyebabkan volatilitas pasar karena para pembuat kebijakan yang cenderung menunda keputusan hingga saat-saat terakhir. Bila kesepakatan tercapai, dolar AS diperkirakan akan menguat.

“Jika, dan setelah, tercapai kesepakatan, fokus akan segera beralih kembali ke data ekonomi dan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yang menurut saya akan menyebabkan sedikit kenaikan lebih lanjut pada dolar AS,” kata dia, dilansir dari Bloomberg, Selasa (23/5/2023).

Sementara ahli strategi di JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley sebelumnya telah memperingatkan bahwa kebuntuan krisis utang AS dapat mengancam prospek pasar saham. Di lain sisi, para investor juga melakukan swap dan opsi mata uang utama, untuk melindungi nilai terhadap portofolio mereka.

Dengan adanya kebuntuan, Wall Street bersiap untuk skenario terburuk. Para eksekutif perdagangan, perbankan korporat dan perbankan konsumen di tiga bank terbesar AS berusaha memprediksi bagaimana dampak pasar ketika AS gagal membayar utangnya.

Namun, investor belum terlalu siap dalam menghadapi krisis ini. Survei Bank of America menunjukan 71 persen investor mengharapkan adanya penyelesaian sebelum batas akhir, yakni ketika pemerintah kehabisan opsi untuk membiayai dirinya sendiri meskipun tanpa masuk dalam keadaan gagal bayar.

Selain aset AS, yen, mata uang komoditas, dan ekuitas pasar berkembang yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko juga berada di bawah pengawasan ketat. Yen sedikit berubah terhadap dolar AS pada awal perdagangan Asia, sedangkan mata uang komoditas lainnya bergerak variatif terhadap greenback.

Goldman Sachs Group Inc. menyatakan, plafon utang AS yang tinggi adalah katalisator yang masuk akal untuk memukul pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.

Editor : Jujuk Ernawati

Follow Berita iNews di Google News