cnbc-indonesia.com – Kalangan nasionalis Rusia marah atas kemunduran yang dialami pasukan Moskow dalam pertempuran di Ukraina beberapa waktu terakhir. Mereka bahkan menyerukan dengan amarah kepada Presiden Vladimir Putin untuk segera melakukan perubahan demi memastikan kemenangan akhir dalam perang Ukraina.

Seperti dilansir Reuters, Senin (12/9/2022), seruan kalangan nasionalis Rusia itu dilontarkan pada Minggu (11/9) waktu setempat, atau sehari setelah pasukan Moskow terpaksa meninggalkan benteng utamanya di wilayah Ukraina bagian timur laut.

Jatunya kota Izium di Provinsi Kharkiv dengan cepat ke tangan pasukan Ukraina menjadi kekalahan militer terburuk Rusia, sejak pasukannya dipaksa mundur dari sekitar ibu kota Kiev pada Maret lalu.

Saat pasukan Rusia pada Sabtu (10/9) waktu setempat, meninggalkan kota demi kota di Ukraina yang pernah diduduki, Putin tengah membuka bianglala terbesar di Eropa yang ada di sebuah taman di Moskow. Dalam momen itu kembang api menyala di atas Lapangan Merah untuk merayakan berdirinya Moskow sejak tahun 1147 silam.

Bungkamnya pemerintah Rusia secara total soal kemunduran militer itu — juga tidak adanya penjelasan resmi soal apa yang terjadi di Ukraina bagian timur laut — telah memicu kemarahan di kalangan nasionalis Rusia dan kelompok maupun pengamat pro-perang.

Salah satunya Igor Girkin yang dikenal sebagai militan nasionalis dan mantan agen FSB yang membantu perang di Donbas, Ukraina, tahun 2014 lalu. Dalam komentarnya, Girkin membandingkan jatuhnya Izium — salah satu garis depan utama dalam pertempuran dengan Ukraina — dengan Pertempuran Mukden tahun 1905 silam ketika Rusia mengalami kekalahan besar dalam perang melawan Jepang yang kemudian memicu revolusi pada tahun yang sama.

Ukraina memuji pencapaian yang didapatnya, di mana ribuan tentara Rusia dilaporkan melarikan diri dan meninggalkan pasokan amunisi dan peralatan militer.

Girkin yang tak henti-hentinya mengkritik para petinggi Rusia, menyebut Menteri Pertahanan (Menhan) Sergei Shoigu sebagai ‘pemimpin kardus’ dan berulang kali mengatakan Rusia akan kalah di Ukraina jika tidak mendeklarasikan mobilisasi nasional.

Kemarahan kalangan nasionalis Rusia pada kegagalan militer berpotensi menjadi masalah yang lebih besar bagi Kremlin, dibandingkan kritikan liberal pro-Barat terhadap Putin.

Saat Moskow tengah menggelar perayaan dengan pesta jalanan dan konser pada Sabtu (10/9) waktu setempat, keresahan telah meresap hingga ke dalam parlemen Rusia yang biasanya tenang. Sergei Mironiv dari partai oposisi Just Russia namun loyal pada Putin, mengatakan via Twitter bahwa pertunjukan kembang api di Moskow harus dibatalkan dengan memandang situasi militer terkini.

Sebuah pesan yang diposting ulang oleh koresponden perang terkemuka Rusia, Semyon Pegov, via Telegram menyebut perayaan di Moskow merupakan ‘penghujatan’ dan penolakan otoritas Rusia untuk melancarkan perang skala penuh sama saja dengan ‘skizofrenia’.

“Entah Rusia akan menjadi dirinya sendiri melalui kelahiran elite politik baru… atau tidak akan ada lagi,” sebut pesan itu.

Baik Putin maupun Menhan Shoigu belum memberikan pernyataan resminya soal kemunduran militer di Ukraina. “Sekarang bukan waktunya untuk diam dan tidak berkata apa-apa … ini sangat melukai perjuangan,” sebut seorang blogger militer pro-perang Rusia yang menggunakan nama Rybar via Telegram.

Secara terpisah, dalam pesan audio berdurasi 11 menit yang diposting ke aplikasi Telegram, pemimpin Chechen Ramzan Kadyrov, yang merupakan sekutu Putin membantah jatuhnya kota Izium yang merupakan pusat pasokan penting. Namun dia mengakui operasi militer tidak berjalan sesuai rencana.

“Jika hari ini atau besok tidak ada perubahan dalam pelaksanaan operasi militer khusus, saya akan terpaksa pimpinan negara ini untuk menjelaskan kepada mereka soal situasi di lapangan,” tegas Kadyrov yang pasukannya dikerahkan ke garis depan dalam pertempuran di Ukraina.