cnbc-indonesia.com – Kamu sebaiknya tidak buru-buru menyalahkan promo 9.9 dari beberapa e-commerce yang menyebabkan pengeluaranmu boncos.

Pasalnya mengonsumsi kafein sebelum berbelanja ternyata bisa mendorong perilaku belanja yang impulsif menurut penelitian terbaru.

Ya, dikutip dari situs resmi McGill University, Kanada, ada keterkaitan yang membuat orang-orang yang minum kafein boros ketika berbelanja.

Para peneliti memiliki alasan tersendiri mengapa perilaku belanja yang boros dikaitkan dengan mengonsumsi kafein. Berikut penjelasannya.

Kafein bikin belanja jadi boros

Beberapa penelitian telah menemukan hubungan mengonsumsi kafein dengan perlindungan dari fibrosis (gangguan pernapasan).

Di sisi lain kafein juga dihubungkan dengan batu empedu, penyakit parkinson, asma, diabetes tipe 2, dan gagal jantung.

Meski begitu senyawa tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko insomnia, kecemasan, keguguran, dan berat badan saat lahir yang rendah.

Yang terbaru penelitian malah menunjukkan implikasi mengonsumsi kafein dengan perilaku belanja yang impulsif.

Penelitian pada awalnya menyelidiki efek dari mengonsumsi kafein dalam jumlah rendah hingga sedang. Dalam hal ini, sekitar 30-100 miligram.

Jumlah konsumsi itu lantas dihubungkan peneliti dengan perilaku konsumen. Dan, hasilnya mereka mendapati jumlah barang ketika belanja menjadi lebih banyak.

Di sisi lain peneliti juga menemukan pengeluaran secara keseluruhan yang lebih tinggi.

Efek tersebut, menurut penelitian, lebih kuat untuk produk yang memancing perilaku belanja hedon, seperti wewangian, cokelat, dan benda dekorasi.

Peneliti juga menjelaskan bahwa perilaku belanja yang kompulsif terjadi karena sifat stimulan dari kafein yang memicu tingkat gairah yang lebih tinggi.

Kemungkinan belanja menjadi boros juga dipengaruhi oleh perasaan lebih berenergi sekaligus bersemangat setelah minum kafein.

Hal ini tentunya mengarahkan orang-orang yang minum kafein pada kontrol kognitif yang lebih lambat, tapi meningkatkan impulsivitas.

Walau perilaku belanja menjadi lebih menyenangkan karena gairah yang tinggi, orang-orang yang meneguknya wajib menyadari konsekuensi dari kafein.

Pasalnya pengeluaran mereka berisiko boncos dan bisa menimbulkan masalah apabila inflasi terjadi.

Apa itu kafein ?

Kafein yang dihubungkan peneliti dengan perilaku belanja yang kompulsif adalah kandungan yang umum dijumpai di teh dan kopi .

Selain itu, kafein dapat diasup melalui coklat, kola, guarana, yerba mate, dan dapat ditambahkan ke minuman dan suplemen.

Untuk diketahui, kafein adalah stimulan bersifat ringan yang dapat meningkatkan pelepasan dopamin (hormon bahagia) ke otak.

Ketika dikonsumsi, kafein punya fungsi untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus tingkat energi.

Apabila masuk ke dalam tubuh, kafein memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk diserap dan dipecah oleh hati.

Mengonsumsi kafein ketika perut kosong juga memungkinkan dorongan energi yang lebih cepat ketimbang sebelum makan -tapi menunda penyerapan kafein.

Di samping itu mengonsumsi kafein secara teratur bisa menyebabkan toleransi kafein sehingga mengurangi efek stimulannya.

Semisal kafein tiba-tiba disetop dari pola makan, orang-orang yang terbiasa meminumnya bisa mudah marah dan sakit kepala.

Tidak menutup kemungkinan mereka juga mengalami suasana hati yang tertekan dan merasa kelelahan.

Untuk orang-orang yang doyan mengonsumsi kafein -khususnya dalam kopi- mereka sebaiknya membatasi asupan minuman ini.

Menurut Health Canada, asupan kafein maksimum yang direkomendasikan adalah 400 miligram per hari.

Takaran tersebut setara dengan tiga cangkir 8 ons atau 237 mililiter kopi yang diseduh.