15 Faktor Risiko Hipoglikemia pada Penderita Diabetes

15 Faktor Risiko Hipoglikemia pada Penderita Diabetes

cnbc-indonesia.com – Berbagai faktor risiko hipoglikemia penting dikenali terutama oleh para penderita diabetes .

Dilansir dari Mayo Clinic, hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang berada di bawah ambang batas normal.

Seseorang bisa disebut mengalami hipoglikemia jika hasil pengukuran kadar gula darah puasanya berada di bawah 70 mg/dL.

Hipoglikemia pada dasarnya bisa dialami siapa saja, tapi memang lebih mungkin dialami oleh penderita diabetes yang mengonsumsi obat diabetes.

Episode hipoglikemia atau kadar gula darah ini termasuk kejadian yang kurang menyenangkan.

Bagaimana tidak, hipoglikemia bisa membuat seseorang merasakan kondisi berikut:

  • Pusing
  • Detak jantung cepat
  • Pandangan kabur
  • Gemetar
  • Lemas
  • Sakit kepala
  • Bingung atau linglung
  • Sulit berkonsentrasi

Inilah mengapa penting untuk menilai risiko mengalami hipoglikemia bagi para penderita diabetes.

Setelah mengidentifikasi faktor risiko, para penderita diabetes dapat bekerja dengan dokter untuk mengembangkan strategi mencegah episode hipoglikemia.

Selain itu, penderita diabetes dapat membuat rencana untuk menangani suatu episode hipoglikemia sebelum menjadi serius.

Berikut adalah kondisi yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia pada penderita diabetes:

1. Bertambahnya usia

Dilansir dari Health Line, risiko penderita diabetes mengalami hipoglikemia parah kira-kira naik menjadi dua kali lipat untuk setiap dekade kehidupan setelah usia 60 tahun.

Hal ini mungkin terjadi karena lansia lebih sensitif terhadap obat-obatan.

2. Melewatkan makan

Pada penderita diabetes, melewatkan makan dapat membuang keseimbangan gula darah dan dapat menyebabkan kadar glukosa turun terlalu rendah.

Mengambil obat diabetes tertentu tanpa makanan dapat sangat meningkatkan kemungkinan panderita diabetes mengalami episode hipoglikemia.

3. Pola makan yang tidak teratur

Makan tidak teratur sepanjang hari dapat mengganggu keseimbangan antara kadar gula darah dan obat diabetes yang dikonsumsi penderita diabetes.

Ditambah lagi, penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan kebiasaan makan teratur memiliki risiko hipoglikemia lebih rendah daripada orang yang memiliki kebiasaan makan tidak teratur.

4. Olahraga berat

Saat berolahraga, penderita diabetes menggunakan glukosa dalam aliran darah lebih cepat.

Peningkatan aktivitas fisik juga dapat meningkatkan sensitivitas penderita diabetes terhadap insulin.

Jadi ingatlah, bahwa terlibat dalam olahraga berat tanpa memantau kadar gula darah bisa berbahaya.

Untuk menghindari hipoglikemia selama berolahraga, coba tes gula darah sebelum, selama, dan setelah berolahraga.

Penderita diabetes mungkin perlu makan camilan sebelum memulai program olahraga. Bisa jadi juga penderita perlu mengonsumsi camilan atau tablet glukosa jika kadarnya terlalu rendah setelah berolahraga.

Penderita diabetes harus bisa mengenali gejala hipoglikemia saat berolahraga. Ini penting untuk bisa mengambil pengobatan secepat mungkin guna mencegah komplikasi.

5. Penurunan berat badan drastis

Karena obesitas meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, mengelola berat badan adalah bagian penting dari pengobatan diabetes.

Tetapi menurunkan berat badan terlalu cepat dapat membawa risiko jika penderita diabetes mengonsumsi obat diabetes.

Menurunkan berat badan bisa membuat penderita diabetes lebih sensitif terhadap insulin. Ini berarti mereka mungkin perlu mengambil lebih sedikit insulin untuk mengelola diabetes.

Selama mengupayakan penurunan berat badan, penting untuk bertemu dengan dokter.

Penderita diabetes harus mendiskusikan modifikasi dosis obat diabetes tertentu untuk mencegah episode hipoglikemia.

6. Mengonsumsi obat beta-blocker

Beta-blocker adalah obat yang bisa digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kondisi lainnya.

Meskipun beta-blocker tidak selalu meningkatkan risiko penderita diabetes mengalami hipoglikemia, obat ini dapat membuat lebih sulit untuk mengenali gejala suatu episode.

Misalnya, salah satu tanda pertama hipoglikemia adalah detak jantung yang cepat. Sementara, beta-blocker bisa memperlambat detak jantung, jadi penderita diabetes tidak akan bisa mengandalkan tanda ini.

Jika penderita diabetes menggunakan beta-blocker, mereka harus memeriksa kadar gula darahnya lebih sering dan makan secara konsisten.

7. Terlalu sering menyuntikan insulin ke bagian tubuh yang sama

Insulin yang disuntikkan berulang kali ke tempat yang sama dapat menyebabkan lemak dan jaringan parut menumpuk di bawah permukaan kulit. Ini disebut sebagai lipohipertrofi.

Lipohipertrofi dapat memengaruhi cara tubuh penderita diabetes menyerap insulin.

Terus menyuntikan insulin ke tempat yang sama dapat menempatkan penderita diabetes pada risiko yang lebih tinggi mengalami hipoglikemia serta hiperglikemia.

Inilah sebabnya mengapa memindahkan tempat di bagian tubuh untuk suntik insulin penting dilakukan.

Perlu diingat bahwa bagian tubuh yang berbeda menyerap insulin secara berbeda pula. Misalnya, perut menyerap insulin paling cepat, diikuti oleh lengan. Bokong menyerap insulin pada tingkat paling lambat.

8. Mengonsumsi antidepresan

Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.200 orang dengan diabetes menemukan bahwa penggunaan antidepresan sangat terkait dengan hipoglikemia.

Jenis antidepresan trisiklik lebih kuat kaitanya dengan risiko hipoglikemia berat daripada inhibitor reuptake serotonin selektif.

Peneliti mencatat bahwa gejala depresi, seperti kehilangan nafsu makan juga dapat berkontribusi pada risiko hipoglikemia yang lebih tinggi.

9. Minum alkohol

Minum alkohol dapat menyebabkan kadar glukosa Anda turun dalam semalam.

Dengan alkohol dan obat diabetes, gula darah Anda bisa turun dengan cepat.

Jika Anda minum alkohol, ingatlah untuk makan makanan atau camilan sebelum tidur.

Selain itu, berhati-hatilah saat memantau kadar glukosa darah Anda pada hari berikutnya.

10. Disfungsi kognitif

Dilansir dari WebMD, penderita diabetes yang juga hidup dengan disfungsi kognitif, demensia, atau kondisi seperti penyakit Alzheimer mungkin lebih berisiko mengalami hipoglikemia.

Orang yang hidup dengan kondisi ini mungkin memiliki pola makan yang tidak menentu atau sering melewatkan waktu makan.

Selain itu, mereka bisa saja secara tidak sengaja mengambil dosis obat yang salah.

Padahal mengambil terlalu banyak obat diabetes dapat menyebabkan hipoglikemia.

11. Mengalami kerusakan ginjal

Ginjal Anda memainkan peran penting dalam memetabolisme insulin, menyerap kembali glukosa, dan mengeluarkan obat dari tubuh.

Untuk alasan ini, penderita diabetes dan kerusakan ginjal dapat berisiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia.

12. Tiroid kurang aktif

Tiroid adalah kelenjar yang melepaskan hormon untuk membantu tubuh Anda mengatur dan menggunakan energi.

Hipotiroidisme atau tiroid yang kurang aktif adalah ketika fungsi tiroid melambat dan tidak menghasilkan cukup hormon tiroid.

Orang dengan diabetes berada pada peningkatan risiko mengalami hipotiroidisme.

Dengan terlalu sedikit hormon tiroid, metabolisme Anda bisa melambat.

Karena itu, obat diabetes Anda bisa menjadi “berlama-lama” di dalam tubuh yang dapat menyebabkan hipoglikemia.

13. Punya gastroparesis

Gastroparesis adalah gangguan di mana isi lambung kosong terlalu lambat. Kondisi tersebut diduga ada hubungannya dengan gangguan sinyal saraf di perut.

Sementara banyak faktor yang dapat menyebabkan kondisi tersebut, termasuk virus atau refluks asam lambung .

Gastroparesis juga dapat disebabkan oleh diabetes.

Faktanya, wanita dengan diabetes memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan gastroparesis.

Dengan gastroparesis, tubuh Anda tidak akan menyerap glukosa pada tingkat normal.

Jika Anda menggunakan insulin dengan makanan, kadar gula darah Anda mungkin tidak merespons seperti yang Anda harapkan.

14. Menderita diabetes sudah lama

Risiko hipoglikemia juga meningkat pada orang dengan riwayat diabetes yang lebih lama. Hal ini mungkin terjadi karena mereka telah menjalani terapi insulin untuk jangka waktu yang lebih lama.

15. Kehamilan

Kehamilan bisa menyebabkan perubahan besar pada hormon.

Wanita dengan diabetes mungkin mengalami penurunan kadar glukosa darah selama 20 minggu pertama kehamilan. Mengambil dosis insulin normal mungkin akan berdampak pada penurunan kadar glukosa lebih signifikan.

Jika Anda hamil, sebaiknya bicarakan dengan dokter tentang opsi pengurangan dosis insulin Anda untuk menghindari hipoglikemia.

Pada dasarnya, jika memiliki salah satu faktor risiko di atas, penderita diabetes sebaiknya berbicara dengan dokter untuk mengembangkan rencana perawatan terbaik guna mencegah hipoglikemia.