Fransiskus Adakan Misa di Kuil Katolik Tertua Amerika Utara

Fransiskus Adakan Misa di Kuil Katolik Tertua Amerika Utara

Quebec: Paus Fransiskus mengadakan misa pada Kamis kemarin di kuil gereja tertua di Amerika Utara. Kegiatan tersebut diwarnai aksi protes singkat di hari keempat kunjungan Fransiskus di Kanada.
 
Tujuan dari kunjungan Fransiskus adalah menjalin ulang hubungan gereja dengan masyarakat adat atau pribumi.
 
Ribuan orang, kebanyakan dari mereka penduduk pribumi, melihat kedatangan Fransiskus di kuil Sainte-Anne-de-Beaupre di bawah pengamanan ketat. Fransiskus terlihat melambaikan tangan ke arah kerumunan orang dari mobilnya.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Spanduk bertuliskan “Batalkan doktrin” dibawa beberapa orang dan dibentangkan pada saat misa dimulai di area kuil, hanya berjarak beberapa meter dari Fransiskus. Tulisan itu mengacu pada Doctrine of Discovery, dekrit paus abad ke-15 yang memberdayakan kekuatan Eropa dan menjajah tanah serta orang-orang non-Kristen.
 
Doktrin tersebut menjadi dasar melegitimasi perbudakan serta klaim Eropa atas masyarakat adat dan tanah mereka – fondasi dari negara-negara seperti Kanada dan Amerika Serikat (AS).
 
Dikutip dari AFP, Jumat, 29 Juli 2022, tulisan dalam spanduk tersebut hanya berada di sisi yang menghadap jauh dari Fransiskus, dan telah disingkirkan petugas tanpa ada insiden berarti.
 
Namun kemunculan spanduk itu menunjukkan bahwa penduduk pribumi Kanada, meski menganggap perjalanan Fransiskus sebagai kunjungan bersejarah, menilai bahwa Vatikan masih harus mengambil langkah terkait doktrin tersebut.
 
Fransiskus datang ke Kanada untuk menyampaikan permohonan maaf atas tindakan gereja yang melecehkan anak-anak pribumi di sekolah-sekolah Katolik tersebut.
 
Baca:  Kunjungi Kanada, Paus Fransiskus Minta Maaf ke Masyarakat Pribumi
 
Pada akhir tahun 1800-an hingga 1990-an, pemerintahan Kanada mengirimkan sekitar 150.000 anak-anak ke sekolah-sekolah yang dikelolah gereja, di mana mereka terputus dari keluarga, bahasa, serta budaya mereka lantaran kebijakan asimilasi paksa yang gagal.
 
Banyak yang mengalami pelecehan fisik dan seksual, serta ribuan orang diyakini telah meninggal akibat penyakit, kekurangan gizi atau penelantaran.
 
Para pemimpin adat telah menarik garis lurus antara Doctrine of Discovery dan pembentukan sekolah-sekolah berabad-abad kemudian. (Gracia Anggellica)

 

(WIL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan