cnbc-indonesia.comJakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah berfluktuasi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/9/2022). “Kekeringan” valuta asing yang melanda di dalam negeri menjadi pemicu pergerakan liar rupiah.

Melansir data Refinitiv, rupiah sebenarnya membuka perdagangan dengan menguat 0,12% ke Rp 14.810/US$. Setelahnya, rupiah jeblok hingga 0,58% ke Rp 14.916/US$.Pada tengah hari, rupiah berada di Rp 14.842/US$, melemah 0,09% di pasar spot.

Hal yang sama terjadi melawan dolar Singapura dan Australia. Rupiah sempat menguat di awal perdagangan, kemudian berbalik melemah. Melawan dolar Singapura dan Australia rupiah sempat terpuruk masing-masing lebih dari 0,66%.

Pada pukul 11:49 WIB, rupiah melemah tipis 0,03% melawan dolar Singapura ke Rp 10.602/SG$, sementara melawan dolar Australia menguat tipis 0,04% di Rp 10.140/AU$.

Likuiditas valas di dalam negeri tengah tertekan. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit valasnya lebih tinggi dibandingkan dana pihak ketiga valas. Mengutip data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit valas tumbuh 16,82% dan DPK valasnya 5,8%.

Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas, Aviliani mengingatkan jika masalah likuiditas ini tidak diselesaikan segera maka industri yang memerlukan bahan baku impor akan melirik pendanaan atau kredit dari bank asing.

“Mau tidak mau ya bank kalau gak bisa kasih pinjaman mereka [pengusaha] ke bank asing,” ujar Aviliani dalam Power Lunch CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/9/2022).Selain itu, ‘kemarau’ valas dapat mengganggu stabilitas rupiah. Risiko rupiah akan terpuruk jika permintaan valas mengalami peningkatan menjadi cukup besar.

Guna menambah pasokan valas, pemerintah yang menerbitkan global bond.Kementerian Keuangan berhasil melakukan pricing atas global bond dalam denominasi dolar AS dengan format SEC Shelf Registered dengan nominal yang diterbitkan adalah sebesar US$2,65 miliar atau sekitar Rp 39,55 triliun dalam 3 seri.

“Di tengah kondisi pasar global yang masih volatile, Pemerintah berhasil mendapatkan orderbook sebesar US$12 miliar atau 4,5 kali lipat dari total yang dimenangkan,” tulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dalam rilisnya, Rabu malam (7/9/2022).

TIM RISET CNBC INDONESIA