Surabaya: Provinsi Jawa Timur dikenal sebagai barometer warga Nahdliyin, atau warga Nahdlatul Ulama (NU). Namun, warga nahdliyin di Jatim lebih memilih partai nasionalis ketimbang partai berbasis religius seperti PKB, PPP, PAN, dan PKS.
 
Hal itu berdasarkan hasil survei Surabaya Survei Center (SSC), yang dilaksanakan dari 1-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Di mana PDI Perjuangan berada di posisi pertama pilihan warga Nahdliyin sebesar 27 persen, diikuti oleh PKB 22,4 persen, dan Partai Gerindra di posisi ketiga sebesar 12 persen.
 
Sementara Partai Demokrat memiliki perolehan 7 persen, disusul Partai Golkar dengan 6,8 persen, PPP ada 3,8 persen, NasDem ada 3,6 persen, dan PKS dengan 2 persen. Parpol lainnya masih di bawah itu, seperti Perindo 1,6 persen, PAN 1 persen, PSI 0,3 persen. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kemudian sisanya Garuda, Berkarya, PSI, Hanura, PBB, PKPI, Ummat, Gelora, PKN, dan Prima semuanya sama-sama memeroleh 0,1 persen. Sementara yang tidak tahu atau tidak memilih ada 11,7 persen,” kata Direktur SSC, Mochtar Wahyu Oetomo, disela rilis hasil survei SSC dengan tema Puputan Valentine 2024 di Surabaya, Senin, 29 Agustus 2022.
 

Pria yang juga dosen FISIP Universitas Trunojoyo Madura itu, menyebut untuk kalangan Nahdliyin yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren (Ponpes) atau kalangan santri, lebih memilih PKB pada Pileg 2024 sebanyak 30 persen, disusul PDI Perjuangan 20 persen, Partai Gerindra 10,6 persen, PPP 4,6 persen, Demokrat 4,2 persen, Golkar 4 persen, nasDem 2,8 persen, PKS 2 persen, dan parpol lainnya di bawah 1 persen.
 
“Parpol pilihan kalangan santri yang masuk tiga besar adalah PKB sebanyak 30 persen, disusul PDI Perjuangan 20 persen, dan Partai Gerindra 10,6 persen,” katanya.
 
Menurut Mochtar, dalam setiap kontestasi pemilu pilihan warga Nahdliyin tergolong cair. Hal itu dibuktikan dalam survei SSC ternyata responden yang memiliki KartaNU itu hanya 14 persen, kemudian yang pernah menjadi pengurus NU hanya 8 persen. Sedangkan yang kultural atau tidak memiliki KartaNU dan tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren justru lebih mendominasi.
 
“Ini membuktikan bahwa selama ini banyak yang salah persepsi jika NU identik pada salah satu parpol. Padahal warga Nahdliyin sangat heterogen dan banyak pilihan politiknya cenderung ke parpol nasionalis,” ujarnya.
 
Dalam survei SSC juga terungkap parpol yang dinilai responden paling nasionalis adalah PDI Perjuangan 41,8 persen, Gerindra 12,5 persen, Demokrat 9,7 persen, Golkar 6,2 persen, PKB 4 persen, NasDem 3,7 persen, PAN dan Perindo 1,5 persen, lalu PPP dan PKS 1 persen.
 
Sementara parpol yang paling relegius pilihan responden, tambah Mochtar adalah PKB 48 persen, PPP 12 persen, PKS 8,2 persen, PDI Perjuangan 4 persen, PAN 2,8 persen, Gerindra 2,4 persen. Kemudian Golkar, PBB, dan Demokrat masing-masing 2 persen, serta NasDem 1,5 persen.
 
Penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari 1-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.
 

(WHS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.