cnbc-indonesia.com – Harga emas masih betah dalam zona negatif. Pada perdagangan Rabu (31/8/2022) pukul 14:50 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.720,20 per troy ons. Turun 0,19% dari posisi penutupan sebelumnya.

Dalam sepekan, harga emas sudah amblas 1,75% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas sudah anjlok 2,91% sementara dalam setahun jatuh 5,14%.

Ilya Spivak, analis dari DailyFX, mengatakan harga emas semakin melemah karena pasar melihat tidak ada celah bagi bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/the Fed memperlunak kebijakannya. “Jelas sekali The Fed tidak ada niat untuk memperlunak kebijakannya dalam waktu dekat. Fokus mereka adalah inflasi,” tutur Spivak, seperti dikutip dari Reuters.

Dia menambahkan meskipun the Fed sudah memberikan pernyataan tegas kemarin tetapi pasar masih menunggu langkah lanjutan bank sentral AS.

Namun, data ekonomi AS yang membaik bisa menjadi modal bagi the Fed untuk semakin agresif ke depan. Tingkat pengangguran AS turun menjadi 3,5% pada Juli 2022, terendah sejak Februari 2020.

Sementara itu, indeks sentimen konsumen University of Michigan pada Agustus ada di angka 58,2. Indeks jauh lebih tinggi dibandingkan pada Juli yang tercatat 51,5.

“The Fed masih memberikan petunjuk eksplisit untuk kebijakan ke depan,” ujarnya.

Spivak juga menambahkan jika harga emas terus tertekan karena kuatnya kinerja dolar AS. Dolar Index pada sore hari ini ada di angka 108,85 atau naik 0,06%. Posisi tersebut juga menjadi Oktober 2002.

TIM RISET CNBC INDONESIA