cnbc-indonesia.com – Pasar saham Asia berakhir menguat pada perdagangan Senin, di tengah harapan data utama tentang inflasi AS akan menunjukkan beberapa pendinginan, sementara dolar AS tertahan oleh risiko suku bunga Eropa yang lebih tinggi dan intervensi Jepang.

Liburan di China dan Korea Selatan membuat perdagangan menjadi lambat, sementara para pedagang tidak yakin apa implikasi dari keberhasilan mengejutkan Ukraina melawan pasukan Rusia.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang bertambah 0,5 persen, setelah melambung sedikit dari level terendah dua tahun pekan lalu. Nikkei Jepang ditutup dengan menambahkan 1,2 persen lagi, setelah reli 2,0 persen minggu lalu.

Wall Street berjuang untuk memperpanjang kenaikan Jumat (9/9/2022) dengan Indeks S&P 500 berjangka dan Nasdaq berjangka datar. EUROSTOXX 50 berjangka menguat 0,6 persen dan FTSE berjangka naik 0,2 persen.

Pasar mengharapkan data Selasa (6/9/2022) tentang harga konsumen AS akan mengisyaratkan puncak inflasi karena penurunan harga bensin diperkirakan memangkas indeks utama sebesar 0,1 persen, menurut jajak pendapat Reuters.

Inflasi inti diperkirakan naik 0,3 persen, meskipun beberapa analis melihat peluang laporan yang lebih lemah.

“Bisa dibilang, dengan ekonomi yang mengalami kontraksi sepanjang paruh pertama, dan kapasitas pengeluaran rumah tangga di bawah tekanan yang signifikan, kami mengalami kejutan penurunan moderat,” kata ekonom di Westpac.

“Dengan demikian, kami memperkirakan +0,2 persen untuk (inflasi) inti dan -0,2 persen untuk (inflasi) utama,” tambah mereka. “Namun, jika tercapai, tidak boleh diasumsikan bahwa Oktober dan seterusnya akan melihat pengulangan, dengan volatilitas kemungkinan akan bertahan.”

Angka yang lemah mungkin menghidupkan kembali spekulasi Federal Reserve (Fed) hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin bulan ini, meskipun kemungkinan harus sangat lemah untuk memiliki dampak nyata mengingat bagaimana para pembuat kebijakan hawkish baru-baru ini.

Pasar saat ini menyiratkan peluang 88 persen The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.

Ekonom Global BofA Ethan Harris khawatir bahwa dengan berfokus pada inflasi aktual untuk menentukan kapan harus berhenti, bank sentral mungkin bertindak terlalu jauh. Bank telah menaikkan target suku bunga dana federal ke kisaran 4,0-4,25 persen, dengan kenaikan 75 basis poin pada September dan kenaikan yang lebih kecil setelahnya.

“Bagi investor, ini berarti lebih banyak tekanan pada suku bunga, lebih banyak kelemahan dalam aset-aset berisiko dan kenaikan lebih lanjut untuk dolar yang sangat kuat,” kata Harris.

“Dalam pandangan kami, tren ini hanya berbalik ketika pasar menilai kedahsyatan penuh dari kenaikan (suku bunga) bank sentral dan kami belum sampai di sana.”

Untuk saat ini, dolar telah mengalami beberapa aksi ambil untung dari reli satu bulan yang berkelanjutan.

Begitu cepatnya dolar naik terhadap yen sehingga otoritas Jepang menjadi semakin vokal dalam memprotes penurunan mata uang mereka, memicu spekulasi intervensi dan memberi tekanan pada Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk memoderasi kebijakan pengendalian kurva imbal hasil.

Pemerintah Jepang harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan penurunan yen yang berlebihan, seorang pejabat senior pemerintah mengatakan pada Minggu (11/9/2022) setelah mencapai level terlemahnya terhadap dolar dalam 24 tahun.

Namun setelah penurunan awal, dolar segera menguat menjadi 0,4 persen pada 143,14 yen, meskipun masih turun dari puncak minggu lalu di 144,99.

Indeks dolar berdiri di 108,770, setelah mencapai setinggi 110,790 minggu lalu. Euro naik 0,4 persen menjadi 1,0080 dolar, dan menjauh dari level terendah baru-baru ini di 0,9865 dolar.

Sebagian terbantu oleh laporan bahwa pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa melihat peningkatan risiko bahwa mereka harus menaikkan suku bunga utama mereka menjadi 2,0 persen atau lebih untuk mengekang rekor inflasi tinggi meskipun kemungkinan resesi.

Analis di ANZ mencatat dolar selama sebulan terakhir naik sekitar 9,0 persen terhadap euro dan yuan China, 12 persen terhadap pound Inggris dan 19 persen terhadap yen.

“Merajalelanya dolar AS menyebabkan ketegangan di negara-negara berkembang, yang menganggap impor dengan harga dolar AS lebih mahal,” kata mereka dalam sebuah catatan.

“Dengan pembicara Fed menggunakan setiap kesempatan untuk menyampaikan pesan hawkish dan pengetatan kuantitatif yang membayangi, dolar tidak akan berubah secara dramatis.”

Kenaikan dolar dikombinasikan dengan imbal hasil obligasi yang tinggi telah menjadi hambatan bagi emas, yang melayang di 1.713 dolar AS per ounce setelah mencapai level terendah 1.690 dolar AS minggu lalu.

Harga minyak juga cenderung lebih rendah di tengah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global, meskipun pengurangan pasokan mendorong kenaikan 4,0 persen pada Jumat (9/9/2022).

Pada Senin, Brent turun 1,29 dolar AS menjadi diperdagangkan di 91,55 dolar AS, sementara minyak mentah AS turun 1,28 dolar AS menjadi diperdagangkan di 85,51 dolar AS per barel.