Jakarta: Edtech Cakap memberikan beasiswa bahasa Inggris dan Mandarin kepada 5.000 orang baik yang bersekolah maupun bekerja di Sulawesi Utara. Beasiswa menyasar sektor pariwisata sebagai salah satu bentuk dukungan dan upaya untuk mempercepat pemulihan pariwisata
nasional.
 
“Kami sangat berharap dengan diluncurkannya program ini akan ada peningkatan jumlah wisatawan lokal dan mancanegara untuk mempercepat pemulihan pariwisata nasional. Nantinya keahlian berbahasa asing yang sudah dipelajari bersama Cakap dapat langsung diaplikasikan oleh rekan-rekan pelaku pariwisata di lapangan,” ujar Chief of Business Cakap Jonathan Dharmasoeka dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Agustus 2022. 
 
Program ini terlaksana atas kerja sama platform EdTech Cakap dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang turut didukung oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Ketua DPP APINDO Sulut Nicho Lieke menyebut pemberian beasiswa sejalan dengan program pemerintah, terutama dalam pemulihan pariwisata lokal, apalagi salah satu destinasi super prioritas ada di Sulut yakni Likupang. 





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Sebelum pandemi, ada lebih dari 140 ribu turis datang per tahun, apalagi ada direct flight dari China. Jika pariwisata sudah sepenuhnya kembali normal, kami berharap masyarakat
di sini sudah siap menyambut turis internasional,” ujar Nicho.
 
Bahasa Mandarin dipilih sebagai materi beasiswa karena selama ini kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulawesi Utara didominasi dari negeri Tiongkok. Data dari Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Utara menunjukan angka kunjungan terus naik di periode sebelum pandemi. 
 
Jumlah wisman pada 2016 sebanyak 47.103 orang, 2017 sebanyak 87.976 orang, 2018 sebanyak 127.879 orang, dan 2019 sebanyak 153.656 orang. Ketika pandemi menghantam, kunjungan wisman ke Sulut langsung anjlok. 
 
Pada periode Januari hingga Juli 2021 ada 10.803 wisman yang berkunjung. Jumlah ini menurun 27,8 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 14.964 wisman. 
 
Meski angka turun dan masih ada kunjungan, asal wisman masih tetap didominasi dari Tiongkok. Nantinya, dalam program beasiswa akan ada 24 sesi belajar selama tiga bulan setiap angkatan/batch. 
 
Ruang kelas daring yang disediakan didedikasikan untuk peserta program dengan metode belajar langsung interaktif dua arah dan berkelompok yang akan dipandu oleh guru-guru tersertifikasi. Contoh materi yang akan dipelajari antara lain, cara menyambut turis, menjelaskan jadwal perjalanan, memperkenalkan makanan lokal, hingga penjelasan mengenai tempat atau destinasi wisata.
 
“Di akhir program, Cakap akan memberikan sertifikat digital (e-certificate) bagi seluruh peserta yang menyelesaikan program belajar. Sertifikat ini nantinya rekan-rekan sekalian dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan karir secara individu di kemudian hari,” kata Jonathan.
 
Sementara itu, salah satu penerima beasiswa Sulistia Tata Alvina mengaku senang menerima beasiswa ini. Sebab, dapat menunjang kegiatan sebagai mahasiswa dan diharapkan sejalan
dengan cita-citanya membuka bisnis kuliner kelak. 
 
“Saya berharap setelah lulus kuliah bisa buka usaha kuliner, Manado kan banyak didatangi turis asing yang pasti akan butuh pengetahuan nama makanan, bahan, jenis ikan dalam bahasa asing terutama Inggris,” ujar mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis ini.
 

 

(REN)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.