cnbc-indonesia.comJakarta, CNBC Indonesia – Harga nikel dunia menguat pada perdagangan hari ini setelah permintaan global diperkirakan meningkat hingga 2030.

Pada Senin (12/9/2022) pukul 16.25 WIB harga nikel dunia tercatat US$23.085 per ton, menguat 0,4% dibandingkan harga penutupan akhir pekan lalu.

Vale mengatakan permintaan global untuk nikel akan meningkat menjadi 6,2 juta ton per tahun pada 2030, naik 1,9 juta ton dari 4,3 juta ton per tahun pada 2022, dalam presentasi perusahaan.

Lonjakan permintaan akan didorong oleh penjualan EV yang berkembang pesat untuk menopang pertumbuhan transisi energi dan target emisi yang lebih rendah global dengan baterai kaya nikel disukai karena kinerja dan daur ulangnya.

Mendaur ulang baterai kaya nikel lebih baik daripada memproses ulang baterai lithium iron phosphate (LFP), karena memulihkan nikel lebih mudah dan lebih hemat biaya, daripada tingkat pemulihan lithium yang rendah dan nilai besi fosfat yang rendah, kata perusahaan itu.

Sumber nikel rendah karbon akan menjadi faktor kunci dalam membantu memenuhi tujuan dekarbonisasi produsen EV, kata Vale.

Pertumbuhan pasokan nikel sebagian besar akan didorong oleh peningkatan produksi di Indonesia, dengan Kanada dan Australia juga memainkan peran kunci, kata penambang.

Selain itu, pertumbuhan permintaan tembaga juga diperkirakan akan didorong terutama oleh sektor EV dan energi terbarukan secara lebih luas, meskipun produsen harus menghadapi penurunan kadar dan ketidakpastian peraturan, yang dapat mengakibatkan defisit struktural dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain itu persediaan nikel di gudang yang dipantau di gudang bursa logam London turun 390 ton kemarin menjadi 53.850 ton. Jumlah ini telah turun 48306 ton atau 47,41% secara point-to-point (ptp) sejak awal tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA