cnbc-indonesia.comJakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah pada penutupan perdagangan sesi I Senin (12/9/2022) di tengah sentimen eksternal terkait suku bunga The Fed yang masih dinanti-nanti oleh pelaku pasar.

IHSG dibuka menguat 0,21% di posisi 7.257,86 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,28% atau 20,62 poin ke 7.222,04 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp 7,8 triliun dengan melibatkan lebih dari 18 miliar saham.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak perdagangan dibuka IHSG sempat berada di zona hijau. Pukul 09:42 WIB IHSG memangkas penguatan sisa 0,13% ke 7.254,4. Indeks kemudian terpantau melemah 0,04% ke 7.239,7 pada pukul 10:32 WIB dan konsisten berada di zona merah hingga penutupan perdagangan sesi I.

Level tertinggi berada di 7.276,42 sekitar 5 menit setelah perdagangan dibuka, sementara level terendah berada di 7.218,46 sesaat sebelum perdagangan ditutup. Mayoritas saham siang ini menguat yakni sebanyak 271 unit, sedangkan 252 unit lainnya melemah, dan 170 sisanya stagnan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya hari ini, yakni mencapai Rp 506,2 miliar. Sedangkan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 463,5 miliar dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di posisi ketiga sebesar Rp 234 miliar.

Pergerakan IHSG sempat mendapatkan katalis positif dari indeks bursa Amerika Serikat (AS) yang menguat pada perdagangan Jumat (9/9/2022), didorong oleh kinerja keuangan emiten. Sementara investor masih mengevaluasi komentar terbaru dari Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell.

Dow Jones Industrial Average naik 377,19 poin, atau sekitar 1,19% menjadi 32.151,71. S&P 500 melonjak 1,53% menjadi 4.067,36, dan Nasdaq Composite naik 2,11% menjadi 12.112,31.

Pergerakan pasar saham global terutama IHSG pada minggu ini masih akan dipengaruhi oleh sentimen luar negeri. Fokus utama tertuju kepada Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Pasar saham masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed sebanyak 75 basis poin (bps) setelah Ketua Fed mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya berkomitmen untuk meredam inflasi.

“Menurut saya, orang-orang terlalu meremehkan apa yang harus dilakukan The Fed untuk melawan inflasi,” tutur Direktur Utama di Richard Bernstein Advisors, Richard Bernstein dikutip CNBC International.

The Fed juga berencana mempercepat pengurangan neraca pada bulan ini. Tindakan ini dikhawatirkan dapat membebani ekonomi dan membuat tahun ini lebih brutal untuk saham dan obligasi.

Setelah meningkatkan neraca menjadi US$ 9 triliun pasca pandemi, The Fed mulai menurunkan beberapa Treasuries dan sekuritas berbasis hipotek yang dimilikinya pada Juni dengan kecepatan US$ 47,5 miliar. Telah diumumkan bahwa bulan ini mereka meningkatkan laju pengetatan kuantitatif menjadi US$ 95 miliar.

Skala pelonggaran The Fed belum pernah terjadi sebelumnya dan efek dari bank sentral yang mengakhiri perannya sebagai pembeli Treasuries yang konsisten dan tidak sensitif terhadap harga sejauh ini sulit untuk ditentukan dengan tepat dalam harga aset.

The Fed New York memproyeksikan bahwa bank sentral akan memangkas sebesar US$ 2,5 triliun dari kepemilikannya pada tahun 2025.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar tampak masih mengkalkulasi dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga BBM akan mendongkrak inflasi sebesar 0,77% pada September 2022. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu kedua September, bensin menjadi komoditas penyumbang inflasi sebesar 0,66% month-to-month (mtm).

TIM RISET CNBC INDONESIA