cnbc-indonesia.com – Kinerja keuangan emiten konsumen milik Anthony Salim PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) babak belur.Pada semester I tahun ini, laba bersih atribusian kepada pemilik entitas induk ICBP turun 40% menjadi Rp 1,93 triliun.

Nasib apes memang sedang dialami oleh produsen mie instan terbesar di Indonesia ini. Kendati penjualan bersih ICBP naik 16% secara tahunan menjadi Rp 32,6 triliun tetapi marjin laba kotornya tergerus.

Asal tahu saja, komponen Cost of Good Sold (COGS) ICBP naik 25% secara tahunan. Kenaikan pos ini disebabkan karena kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi.

Sebagai catatan, beban biaya untuk bahan baku yang digunakan pada kuartal I-2022 sudah naik 22% menjadi Rp 9,1 triliun sementara beban produksi naik 7% menjadi Rp 1,9 triliun.

Kenaikan beban produksi memang tidak lepas dari peningkatan harga bahan baku yang digunakan. Untuk membuat mie instan, maka bahan pokok yang digunakan adalah tepung terigu yang dihasilkan dari biji gandum.

Harga gandum sendiri sudah mengalami kenaikan akibat adanya perang antara Rusia dengan Ukraina. Sepanjang tahun 2022, harga gandum tercatat naik 16% menjadi US$ 380/ metrik ton menurut catatan Bank Dunia.

Bahkan di awal-awal terjadinya perang Rusia dan Ukraina pada Februari dan Maret lalu, harga gandum sempat tembus ke atas US$ 400/ton. Maklum Ukraina merupakan salah satu pemasok gandum dengan pangsa pasar besar ke dunia.

Perang menimbulkan gangguan rantai pasok terjadi yang berdampak pada supply shortage dan harga pun terkerek naik.

Tidak hanya bahan baku saja yang mengalami kenaikan dan membuat marjin l aba kotor ICBP tergerus dari 37% semester I tahun lalu menjadi 32% semester I tahun ini.

Namun dari sisi beban yang lain yaitu biaya penjualan dan distribusi juga mengalami kenaikan. Tidak hanya itu, beban keuangan ICBP juga tercatat bengkak 135% secara tahunan.

Salah satu faktor yang menyebabkan beban keuangan ICBP bengkak adalah rugi kurs yang belum terealisasi yang timbul dari kegiatan pendanaan.Asal tahu saja, nilai tukar rupiah telah melemah 4% lebih sepanjang tahun ini. Bahkan rupiah sempat melemah dan tembus Rp 15.000/US$ pada Juli lalu.

Dengan kenaikan harga bahan baku yang terdampak akibat perang dan anjloknya marjin laba serta nilai laba dari ICBP bukan tidak mungkin perusahaan akan mengambil langkah untuk menaikkan harga produknya.

Salah satu harga produk yang paling populer terutama untuk segmen mie instan adalah Indomie. Sebagai perusahaan market leader produsen mie instan di Tanah Air, sehingga salah satu opsi untuk menjaga marjin laba adalah meningkatkan harga jual dari Indomie.