Citayam Fashion Week, Wujud Eksistensi Remaja di Tengah Modernisasi

Jakarta: Fenomena kehadiran ABG Citayam di sekitaran Sudirman masih hangat dibicarakan. Bahkan saat ini sekumpulan remaja tanggung yang kental dengan sebutan Citayam Fashion Week telah menjadi sorotan dunia fashion.

Terkini, media fasion Jepang, Tokyo Fashion lewat akun twitter memberikan apresiasi atas hadirnya para ABG tersebut. Kehadiran ABG Citayam, Bojonggede dan Depok ini dianggap sebagai aktivitas yang keren. Para remaja tanggung itu berhasil membuat jalanan di Sudirman bak catwalk supermodel.

Fenomena ini mulai viral ketika Jeje, Roy, Bonge, atau pun Kurma muncul di berbagai akun Instagram dan tiktok untuk diwawancarai. Saat ditanya, jawaban mereka menarik, mengundang perhatian netizen, dan tak jarang menggelitik.

Tak lupa, gaya penampilan mereka juga unik dan nyentrik. Kalau zaman dulu, pernah ada sebutan gaya Alay, tapi ABG Citayam ini punya ciri khas sendiri.

Citayam Fashion Week, Wujud Eksistensi Remaja di Tengah Modernisasi

Rata-rata usia ABG Citayam yang datang ke Sudirman di rentang 11 sampai 16 tahun. (Foto: Kautsar Halim/Medcom.id)

Seiring berjalannya waktu, media sosial dan media massa mulai menyoroti penampilan mereka yang biasa nongkrong di sekitaran antara Stasiun Dukuh Atas dengan Stasiun Bandara BNI City Sudirman. Belum jelas alasan mereka nongkrong di area itu. Bisa jadi karena kawasan tersebut memang sangat asyik buat ditongkrongi, atau sekadar foto-foto karena daerah itu instagramable banget.

Aktivitas mereka, selain nongkrong ada pula yang berjalan bak layaknya model profesional. Outfit mereka kece banget. Memakai kacamata hitam walau sudah malam, gaya rambut yang menurut saya nyentrik, hingga padu padan pakaian yang mungkin bertabrakan. Selain itu, ada juga yang menunjukkan aksi ala parkour.

Melihat fenomena ini psikolog Efnie Indrianie M.Psi mengatakan, remaja yang nongkrong di Sudirman ini masuk kategori Generazi Z atau sering disebut juga I Generation. Ciri khasnya, mereka sangat senang dengan hal-hal yang bersifat modernisasi dan teknologi.

“Ini merupakan salah satu cara yang bisa mereka lakukan untuk mengikuti modernisasi ini, karena Sudirman juga dianggap sebagai salah satu kawasan yang sangat lekat dengan modernisasi,” terang Efnie kepada Medcom.id.

 

Asal muasal hadirnya ABG Citayam di Sudirman

Belum diketahui dengan pasti, mengapa para ABG ini bisa menjadikan kawasan Sudirman (Stasiun Dukuh Atas sampai Stasiun Bandara BNI City) tempat nongkrong. Yang pasti, kawasan tersebut mulai ramai beberapa bulan belakangan ini hingga munculnya sebutan Sudirman Citayam Bojonggede Depok (SCBD).



Akses yang mudah dan murah, juga menjadi salah alasan mengapa mereka memilih Sudirman sebagai tempat bersua. (Foto: Gervin Nathaniel Purba/Medcom.id)

“Kalau remaja biasanya melakukan konformitas secara sukarela. Kalaupun tidak sukarela biasanya karena enggak enak sama teman terus lama-lama jadi enak. Kemungkinan besar dari latar belakang yang sama, sehingga tidak perlu melakukan penyesuaian terlalu berat,” ucap Kriminolog Haniva Hasna M. Krim.

Artinya, mereka datang berbondong-bondong bukan karena satu arahan dari payung yang sama. Melainkan dari kelompok kecil, hingga akhirnya muncul kelompok besar yang akhirnya sukses mencuri atensi publik.

“Mengapa di jalanan? Karena mereka menemukan anak-anak dengan latar belakang yang sama, sehingga mudah menyamakan frekuensi dalam bersikap dan bertingkah laku,” sambung Haniva.

 

Eksistensi diri

‘Indah masa remaja, sungguh indah’ begitu sepotong lirik dari Rhoma Irama dengan judul lagu Remaja. Mungkin di situlah masa remaja Citayam dan sekitarnya menikmati sore, menunggu malam untuk nongkrong di kawasan Sudirman.

Menurut Efnie, itu merupakan bagian dalam tahapan perkembangan remaja. Usia remaja sering disebut dengan usia peer group (teman sebaya), di mana berada bersama teman-teman menjadi hal yang sangat penting.

“Selain itu, pada masa remaja juga seseorang akan berusaha menunjukkan eksistensi dirinya agar keberadaannya diakui oleh lingkungan. Jadi, melakukan hal-hal yang eksentrik (seperti nongkrong di kawasan distrik bisnis dengan penampilan yang tidak biasa), bisa dijadikan sebagai sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan eksistensi tersebut,” kata Efnie.

Sementara itu menurut Haniva, pada usia remaja ada beberapa kebutuhan sosial yang harus terpenuhi, yaitu kebutuhan pengakuan sosial (need for afiliation), kebutuhan kasih sayang (belongnesss and love), kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety need), kebutuhan kebebasan (independence), dan kebutuhan harga diri (self esteem).



Mereka berlenggak lenggok di sekitaran terowongan, trotoar, dan kedai kopi yang ada di sekitar Stasiun Dukuh Atas dan Stasiun BNI City Sudirman. Tak ayal, dengan aksi mereka itu kini kerap disebut Citayam Fashion Week. (Foto: Kautsar Halim/Medcom.id)

“Kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan cara berhubungan dengan peer group yang dia pilih. Lalu melakukan konformitas terhadap kelompok tersebut,” ujar Haniva kepada Medcom.id.

Kebutuhan pengakuan sosial, menurut Haniva, biasanya ditunjukkan dengan aksi, penampilan, prestasi hingga perilaku menyimpang yang disesuaikan dengan gambaran ideal diri atau ditularkan oleh kelompok tertentu. Dalam kasus ABG Citayam ini, bergaya bak model profesional dengan outfit nyentrik merupakan satu dari sebagian aksi mereka untuk memenuhi kebutuhan pengakuan sosial.

Aksi ABG Citayam coba dikunyah oleh sebagian publik dengan positif. Dilihat dari banyaknya para fotografer baik itu pro maupun pemula, berbondong-bondong cari pose penampilan para ABG Citayam. Kemudian, ada juga yang mengulas sisi lain sebagian ABG Citayam, seperti Jeje, Bonge, atau pun Roy.

Sementara dari Pemerintah, khususnya Pemprov DKI sebagai yang punya lahan, tidak melarang kawasan tersebut ‘diduduki’ ABG dari luar Jakarta. Hanya saja, Pemprov membatasi aktivitas mereka hanya sampai pukul 22.00 WIB.

Lain halnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno yang memberikan beasiswa kepada Roy, meski akhirnya tawaran dari Sandiaga ini ditolak oleh pemuda yang bernama asli Aji Alfriandi tersebut. Alasannya, Roy ingin fokus buat konten di YouTube.

 

Rentan keluar dari batasan normatif dan kesehatan

Efnie pun beranggapan cara ABG Citayam berada di Sudirman dengan segala aktivitasnya merupakan upaya mereka untuk mengenal lingkungan baru. Dalam hal ini, kawasan Sudirman membuat mereka bisa belajar hal-hal baru dan mengenal ada lingkungan yang ternyata berbeda dari tempat tinggal mereka.

“Jika adaptasinya dilakukan dengan baik maka akan bisa meningkatkan rasa percaya diri. Namun, berkumpul bersama teman-teman dan di luar pengawasan orang tua membuat mereka merasa bisa melakukan hal apapun tanpa memperhatikan batasan normatif dan kesehatan,” kata Efnie.



Kehadiran mereka menjadi warna baru buat Jakarta. (Foto: Kautsar Halim/Medcom.id)

“Hal ini rentan membuat mereka mencoba hal-hal yang tidak seharusnya seperti merokok, obat-obatan terlarang, pergaulan bebas, sampai pada tahap hal yang sangat ekstrim seperti perbuatan kriminal,” sambungnya.

Hal ini juga yang dikhawatirkan Haniva. Tidak bisa dipungkiri bahwa peer group, menurut Haniva, juga bisa membawa dampak negatif.

Perilaku menyimpang sering dilahirkan dari kelompok teman sebaya yang di dalamnya bisa mendorong remaja bersikap diskiminatif terhadap kelompok lain, mendorong untuk menyamakan persepsi antar anggota sehingga sulit menerima kelompok lain denga latar belakang berbeda, serta solidaritas yang terlalu tinggi yang justru akan menyebabkan perselisihan. Bisa juga menjadi penyebab tawuran.

“Apalagi dia sudah diperkuat dengan atribut yang menunjukkan identitas kelompok, agresivitas dan kepercayaan dirinya meningkat disertai dengan keinginan menunjukkan diri pada masyarakat,” ungkap Haniva.

 

Peran orang tua

Seperti diketahui, para ABG Citayam ini ternyata punya sejarah kehidupan masing-masing yang menyentuh. Seperti halnya Jeje Slebew. Remaja putri yang memiliki nama asli Jasmine Laticia ini pernah mengalami pelecehan seksual oleh tukang kebun di rumahnya. Lantaran tak ada yang membelanya, ia pun kabur dari rumah dan memilih hidup di jalanan.

Kisah Jeje jika dikaitkan dengan dukungan orang tua, tentu bisa menjadi segelintir alasan mengapa mereka berada di jalanan. Untuk itu, sebagai orang tua sudah sepatutnya bisa menjadi sahabat, bukan musuh atau sosok yang ditakuti oleh anak-anak.



Orang tua harus bisa menjadi sahabat mereka. (Foto: Gervin Nathaniel Purba/Medcom.id)

“Idealnya orang tua menjadi sahabat bagi remaja, menjadi partner diskusi yang menyenangkan, dan menjadi ‘mentor’ yang tetap mengingatkan hal yang baik dan buruk termasuk hal yang benar dan salah. Sebaiknya orang tua masuk dalam dunia kehidupan remaja, sehingga mereka bisa dapat dengan segera mengendalikan remaja saat remaja tersebut sudah berperilaku di luar batasan yang wajar,” terang Efnie.

 

Sukses undang atensi publik, Citayam Fashion Week mau diapakan?

Meski ada penolakan dari ABG Citayam atas tawaran dan dukungan dari pemerintah, baiknya remaja itu perlu punya keterlibatan dalam kelompok positif yang memiliki aturan, nilai, dan norma sehingga bisa membatasi meeka dalam bersikap.

“Bersikap sesuai aturan yang berlaku atau tidak bersikap abnormal atau delinquen atau menyimpang. Jadi dalam kondisi ini, enggak apa-apa dijadikan sebagai Citayam Fashion Week, tapi kelompok ini akan lebih baik bila terorganisir sehingga memiliki tujuan atau capaian yang jelas,” kata Haniva.



Butuh wadah untuk mereka agar bisa menciptakan kreasi dan tentunya penghasilan. (Foto: Kautsar Halim/Medcom.id)

Kemudian pemerintah atau organisasi sosial bisa membuat satu aturan yang harus diikuti masing-masing para ABG tersebut. Kemudian lakukan sosialisasi biar bisa wajib dilakukan untuk menghindari pelanggaran atau penyimpangan.

“Ketiga fasilitasi dengan memberi ruang bahkan menunjuk orang-orang atau profesi tertentu untuk terlibat dalam edukasi maupun pengembangan diri terkait bidang tersebut,” saran Haniva.

“Ketika tiga hal tersebut sudah dilakukan namun anggota yang sudah terkoordinir tidak taat pada aturan, pengelola (pemerintah) bisa memberi sanksi, di mana sanksi ini juga sudah disosialisasikan oleh duta terpilih beserta team yang sudah terbentuk,” pungkas Haniva.
(FIR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan