BoJ Sepakat Pertahankan Suku Bunga Ultra Rendah untuk Topang Perekonomian

BoJ Sepakat Pertahankan Suku Bunga Ultra Rendah untuk Topang Perekonomian

Tokyo: Risalah pertemuan penetapan suku bunga Bank of Japan (BoJ) di Juni menunjukkan pembuat kebijakan bank sentral sepakat tentang perlunya mempertahankan suku bunga ultra-rendah. Langkah itu guna mendukung ekonomi Jepang yang rapuh dan memastikan kenaikan inflasi disertai dengan upah yang lebih tinggi.
 
“Beberapa dari sembilan anggota di dewan, bagaimanapun, melihat kenaikan harga meluas dan mengarah pada perubahan persepsi publik yang telah lama dipegang bahwa inflasi dan upah tidak akan naik banyak di masa depan,” risalah menunjukkan, dilansir dari The Business Times, Minggu, 31 Juli 2022.
 
Pada pertemuan Juni, BoJ mempertahankan suku bunga sangat rendah dan berjanji untuk mempertahankan batasnya pada imbal hasil obligasi dengan pembelian tak terbatas. Selain itu, melawan gelombang pengetatan moneter global dalam menunjukkan tekad untuk fokus mendukung pemulihan hangat.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, inflasi konsumen inti Jepang tetap di atas target dua persen bank sentral untuk bulan ketiga berturut-turut di Juni. Hal itu terjadi karena ekonomi menghadapi tekanan dari harga bahan mentah global yang tinggi yang telah mendorong biaya impor di negara itu.

Kenaikan harga konsumen menantang pandangan Bank of Japan bahwa kenaikan harga baru-baru ini di ekonomi terbesar ketiga di dunia akan tetap bersifat sementara, bahkan ketika rumah tangga khawatir tentang biaya hidup yang lebih tinggi.
 
Indeks harga konsumen inti (CPI) nasional, yang tidak termasuk biaya makanan segar yang bergejolak tetapi termasuk biaya energi, naik 2,2 persen pada Juni dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan. Data, yang sesuai dengan perkiraan pasar median, mengartikan inflasi tetap di atas target dua persen BoJ untuk bulan ketiga berturut-turut.
 
Ini mengikuti kenaikan 2,1 persen pada Mei dan April. Anggaran rumah tangga, terutama di kalangan berpenghasilan rendah, menghadapi tekanan dari harga pangan yang lebih tinggi yang kemungkinan mendinginkan selera belanja usai pandemi.
 
“Rebound akan cukup lambat. Momentumnya seharusnya kuat jika tidak ada yang terjadi, tetapi dampak kenaikan harga dan gelombang ketujuh covid-19 sangat menekannya,” pungkas Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute Takeshi Minami.
 

(ABD)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan