Bisnis  

Taipan Gautam Adani Mengaku Kecanduan ChatGPT

cnbc-indonesia.com – JAKARTA – Orang terkaya di Asia, yakni Gautam Adani mengatakan bahwa dirinya telah kecanduan ChatGPT, di mana dirinya bisa mengobrol dengan bot, layaknya berinteraksi dengan manusia.

Teknologi yang mulai dikembangkan pada tahun 2020 ini, memang memungkinkan penggunanya dapat mendefinisikan ulang, membuat dan berinteraksi dengan informasi digital. Tak heran, ChatGPT digadang-gadang cepat ataupun lambat bisa menggeser Google.

Mulanya Chat GPT dikembangkan dengan kemampuan untuk menulis apa saja seperti menulis tweet, puisi, esai, dan bahkan program komputer. Namun, kini ChatGPT kian canggih bahkan punya gaya percakapan yang sangat natural.

Adapun pendiri dan donatur terbesarnya adalah tokoh kontroversial seperti CEO Twitter Elon Musk dan megadonor Silicon Valley Peter Thiel, bersama dengan perusahaan teknologi seperti Microsoft.

Berdasarkan unggahan LinkedIn-nya, meski taipan India yang berusia 60 tahun itu mengaku telah kecanduan pada ChatGPT sejak dia mulai menggunakannya. Namun, dirinya menyadari bahwa kehadiran AI memiliki potensi dan bahaya yang sama seperti chip

“Hampir lima dekade yang lalu, perintis desain chip dan produksi chip skala besar menempatkan AS di depan seluruh dunia dan menyebabkan munculnya banyak negara mitra dan raksasa teknologi seperti Intel, Qualcomm, TSMC, dan lain-lain,” tulis Gautam dilansir dari Business Insider, Selasa (24/1/2023).

Baginya, seiring dengan kecanggihan yang dielu-elukan banyak orang, hal ini turut mendorong perlombaan di bidang AI dan membuka jalan dalam peperangan modern.

Terbukti, dengan dirinya mengaitkan lewat peristiwa tegangnya hubungan China dan Amerika Serikat, di mana perang terkait chip terus memanas bahkan menurut Gautam ini bisa memengaruhi konflik fisik dengan melibatkan senjata.

Pasalnya, chip menjadi bahan penting dan komponen inti manufaktur elektronik maupun digital bahkan persenjataan. Sehingga, penguasaan atas industri dan perdagangan chip menjadi kunci untuk menguasai dunia. Tak heran, jika Amerika dan China terus bersitegang di bidang ini.

Sejauh ini, Amerika, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang merupakan produsen chip terbesar di dunia. Amerika terus mencari cara untuk mengisolasi produk chip China bahkan menekannya.

Raja infrastruktur India ini pun menuliskan, alasan yang membuat Amerika terancam akan hadirnya chip di China, sebab kemajuan penelitian China telah 2 kali lebih cepat dibanding Amerika, di mana peneliti China sudah menerbitkan makalah akademis yang lebih banyak daripada Amerika pada tahun 2021 soal penemuannya terkait teknologi chip. Tak heran, jika Amerika menilai ini bisa menjadi ancaman militer bagi negara tersebut.

Jadi Perusahaan dengan Utang Terbanyak

Sementara Gautam menyoroti soal ChatGPT dan perang chip yang dialami oleh China-AS. Nyatanya, dirinya sendiri pun tengah menjadi sorotan dunia, sebab ada lima perusahaan milik Adani yang akan IPO pada 2026-2028 mendatang.

“Setidaknya lima unit akan siap masuk ke pasar dalam tiga sampai lima tahun ke depan,” kata Chief Financial Officer (CFO) Adani Group Jugeshinder Singh, dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/1/2023).

Dia mengatakan, Adani New Industries, Adani Airport Holdings, Adani Road Transport, dan AdaniConneX, serta unit grup logam dan pertambangan akan menjadi unit independen.

Akhir bulan ini, Adani Enterprises juga mengumpulkan US$2,5 miliar yang setara Rp37,4 triliun dengan menerbitkan saham baru, yang kemungkinan menjadi penawaran saham publik lanjutan terbesar di India.

Sebagai orang terkaya ketiga di dunia, harta kekayaan Adani kini lebih dari US$120 miliar atau setara dengan Rp1.795 triliun

Meski, ketujuh saham perusahaan Adani di berbagai sektor mulai dari pelabuhan hingga pembangkit listrik telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi, sejumlah analis cukup khawatir bahwa pertumbuhan ini menimbulkan risiko besar karena raksasa milik Gautam yang senilai US$206 miliar atau setara dengan Rp3.082 triliun itu nyatanya punya pinjaman yang luar biasa besar senilai US$30 miliar atau setara dengan Rp449,1 triliun, yang membuat bisnisnya menjadi salah satu yang paling banyak berutang di negara ini.

error: Content is protected !!