Bisnis  

Green Crypto: Mana Saja Proyek Kripto yang Lebih Ramah Lingkungan?

Green Crypto: Mana Saja Proyek Kripto yang Lebih Ramah Lingkungan?

cnbc-indonesia.com – Upgrade Ethereum ke proof-of-stake (PoS) yang akan datang memberi sinyal bahwa mereka akan melakukan pengurangan konsumsi energi hingga 99,95%. Langkah itu sebenarnya serupa dengan aset kripto PoS lainnya yang menggunakan validasi ekonomi alih-alih menambang daya komputasi. Maka, tak heran jika akhirnya kripto PoS pun disebut sebagai “green crypto” atau kripto hijau.

Artikel ini adalah salah satu bagian dari pembahasan e-book baru yang dapat kamu unduh gratis dari Be[In]Crypto, berjudul “Sustainability and Cryptocurrency: An Analysis.” Unduh di sini.

Berikut adalah beberapa proyek kripto yang jauh lebih terkenal karena sejak awal sudah memiliki pengembangan sebagai proof-of-stake.

Green Crypto #1: Efinity

Efinity adalah blockchain yang beroperasi di jaringan Polkadot. Efinity sendiri merupakan bagian dari Enjin, yaitu sebuah proyek yang berfokus pada NFT dan gaming. Jaringan ini berusaha untuk melayani khalayak umum dan para developer. Selain itu, mereka juga memberikan pengalaman NFT yang ramah pengguna dengan biaya rendah dan kecepatan yang tinggi. Mereka menggambarkan dirinya sebagai NFT highway, yang berkebalikan dengan blockchain komputasi pada umumnya.

CTO Enjin, Witek Radomski, telah membahas tentang penggunaan Polkadot dan sifatnya yang ramah lingkungan.

“Terdapat protokol PoS lain [yang] lebih ramah lingkungan [yang] tersedia: Polkadot terbukti menjadi salah satu opsi yang paling layak dan sadar karbon, menggunakan energi [yang] setara dengan 6.6 rumah tangga AS per tahunnya, itulah sebabnya kami memilihnya sebagai destinasi NFT parachain kami, Efinity. Parachain tidak memerlukan sumber daya energi tambahan untuk beroperasi, sehingga konsumsi energi Polkadot akan tetap kurang dari 0,001% Bitcoin,” jelasnya.

Di samping itu, Efinity juga bertujuan untuk menjadi pusat untuk aset fungible dan non-fungible dengan standar token baru untuk kompatibilitas di semua jaringan dan standar yang ada.

Green Crypto #2: Nano

Aset kripto Nano (NANO) merepresentasikan pergeseran dari Bitcoin dan Ethereum. Alih-alih memiliki node yang penuh dengan riwayat blockchain, setiap alamat wallet NANO memiliki blockchain sendiri (block lattice) yang akan mereka perbarui saat transaksi berlangsung. Status terbaru dari ledger ini kemudian akan mereka teruskan ke blockchain Nano. Baru setelahnya status tersebut akan mendapat verifikasi dan integrasi ketika sudah ada konfirmasi dari node Nano lainnya. Oleh karena itu, node Nano tidak seperti jaringan PoW dan PoS yang transaksinya mereka atur untuk penyertaan block dan distribusi biaya. Namun, mereka justru menggunakan voting untuk menentukan siapa yang membuat block. Karena ini dapat mereka lakukan dengan biaya rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali, transaksi yang termasuk dalam blockchain Nano bisa berjalan tanpa adanya biaya.

Nano juga telah membahas tentang bagaimana argumen seputar penggunaan energi bitcoin adalah argumen yang sepenuhnya salah.

Direktur Nano Foundation, George Coxon, mengatakan, “Argumen seputar penggunaan energi Bitcoin di sektor cryptocurrency bukanlah tentang siapa yang benar atau salah, ini pada dasarnya tentang kemajuannya. Apabila solusi yang lebih baik muncul, Anda [perlu] menggunakannya – hal itu selalu terjadi dengan perkembangan teknologi selama berabad-abad. Argumen seputar energi yang dikonsumsi untuk jaringan bitcoin berkisar pada pernyataan seperti, ‘ia menggunakan energi [yang] diperbarui, jadi tak masalah’ atau ‘tidak masalah karena energi yang digunakan [memang] sudah tercipta’ – ini adalah gambaran dari lingkaran umpan balik positif yang suportif sekaligus menyesatkan.

“Pernyataan pembelaan itu sendiri mungkin secara faktual tidak salah, dan [sebenarnya] tidak masalah. Maksud saya adalah, jika ada teknologi yang muncul, baik cryptocurrency ataupun bukan – dan tidak mengacu ke arah dunia masa depan energi yang berkelanjutan, maka berarti perlu lebih banyak inovasi yang dilakukan untuk mewujudkannya,” imbuhnya.

Nano dan Voting Perwakilan Terbuka

Dalam istilah teknis, Nano tidak hanya menggunakan konsensus proof-of-stake tetapi juga menggunakan delegated proof-of-stake (DPoS). Konsensusnya bukan hanya sekadar DPoS biasa, tetapi variasinya yang disebut Open Representative Voting. Berdasarkan pada saldo akunnya, setiap node akan mereka delegasikan dengan bobot voting. Vote ini kemudian dapat mereka gunakan atau distribusikan ke node Nano yang lain.

Sedangkan, mengenai konsumsi energi Nano, Colin LeMahieu, seorang pendiri sekaligus direktur Nano Foundation mengatakan, “Nano memiliki jejak energi untuk 1 transaksi menjadi 0,00012kWh dan seluruh jaringan yang dapat mengalirkan turbin angin tunggal- dengan kata lain, 15,5 juta transaksi Nano menggunakan energi yang sama dengan satu transaksi bitcoin.”

Dengan bobot voting yang cukup, setiap node dapat menjadi Principal Representative yang dapat memberikan vote pada transaksi secara proporsional dengan dana yang mereka miliki. Akan tetapi, tidak ada node representative yang menerima biaya dari voting di mana transaksi/block akan dimasukkan dalam jaringannya. Terlebih lagi, blockchain akun individual, yaitu Block Lattice, memungkinkan pengguna untuk segera memperbarui saldo akun mereka, tanpa harus menunggu konfirmasi dari jaringan.

Menariknya, Nano juga menggunakan beberapa bentuk pemeriksaan energi untuk proof-of-work sebagai pencegah terhadap spam jaringan dengan transaksi. Namun, meskipun Nano menawarkan transaksi gratis dan konfirmasi yang cepat, masih belum jelas apakah PoW minimalnya dapat secara efektif mencegah spam transaksi yang tidak valid.

Kilas Balik

Pada awalnya, kita hanya butuh GPU senilai US$3 juta agar bisa memusatkan jaringan secara penuh. Faktanya, oleh karena validator tidak mendapat bayaran, tidak seorang pun kecuali organisasi dengan kepentingan pribadilah yang memiliki insentif untuk menjalankan jaringan tersebut.

Dengan demikian, bobot voting Nano mereka distribusikan di beberapa bursa kripto, yaitu Kraken dan Binance. Selain itu, mereka juga dibarengi dengan Nano Foundation dan 465 Digital Investments, yang merupakan grup ekuitas swasta. Namun, meskipun jaringan Nano tidak dapat membanggakan desentralisasinya, mereka dapat mengklaim bahwa mereka memiliki transaksi tanpa biaya dengan pengeluaran energi 0,111 Wh per transaksi. Dengan begitu, Nano pun memiliki keunggulan berupa keberlanjutannya sendiri untuk menarik minat investor.

Kendati demikian, dengan kapitalisasi pasarnya yang berjumlah US$378 juta, yang mana jumlah tersebut adalah 0,04% dari Bitcoin, konsep barunya itu tampaknya tidak begitu menggugah minat publik. Memang, Nano sudah memenuhi permintaan Greenpeace kepada Bitcoin saat ini, tetapi prospek jangka panjangnya masih belum cukup menarik. Untungnya, pihak yang bertanggung jawab tetap teguh dengan pendirian mereka bahwa kripto harus mendukung inisiatif ramah lingkungan.

Di sisi lain, Colin LeMahieu, pendiri dan direktur Nano Foundation menyatakan, “Perusahaan cryptocurrency yang mendukung dan memfasilitasi teknologi yang tidak berkelanjutan [ternyata] malah memiliki tagline ‘bank the unbanked’ atau USP untuk menyediakan perbankan bagi mereka yang berada di negara berkembang – orang-orang itulah yang seharusnya Anda coba bantu yang akan merasakan beban terbesar dari perubahan iklim serta tanggung jawab untuk tidak menggunakan atau memfasilitasi solusi yang lebih ramah lingkungan. Uang digital seharusnya tidak membebani Bumi.”

Green Crypto #3: Cardano

Cardano (ADA) memiliki sejarah yang sama dengan Ethereum. Pasalnya, developer utama Cardano, yaitu Charles Hoskinson, juga ikut mendirikan Ethereum bersama Vitalik Buterin dan enam pendiri lainnya. Dengan warisan bersama ini, Cardano juga merupakan sebuah platform smart contract generalis yang mereka rancang untuk menyebarkan dApps yang mencakup pasar NFT, decentralized finance (DeFi), dan blockchain gaming.

Di samping itu, jaringan yang namanya mereka dapatkan dari ahli matematika Italia Gerolamo Cardano ini memiliki kesamaan dengan Bitcoin karena mereka memiliki pasokan koin tetap. Seperti yang kita ketahui, Bitcoin memiliki pasokan yang mencapai 21 juta, sedangkan token ADA Cardano mereka batasi hingga 45 miliar.

Kemudian, jika kita bandingkan dengan Ethereum yang belum sepenuhnya beralih ke konsensus proof-of-stake, Cardano sudah menggunakan konsensus tersebut sejak awal. Selain itu, Cardano juga mendapat julukan sebagai platform smart contract generasi ketiga.

Terlebih lagi, Cardano ternyata menjadi salah satu blockchain publik yang paling terdesentralisasi dengan lebih dari 3.000 node validator. Hal tersebut tetap bisa mereka capai meskipun Hoskinson meninggalkan Ethereum karena alasan keuangan, ketika Vitalik berusaha membuatnya tetap open-source dan nirlaba. Jumlah tersebut mungkin tampak kecil apabila kita bandingkan dengan validator Ethereum yang jumlahnya lebih dari 300 ribu. Namun, perbandingan seperti itu bisa jadi menyesatkan.

Nodes

Selama validator Ethereum memiliki lebih dari 32 ETH (~US$112 ribu) mereka dapat menjalankan banyak node. Tapi sebaliknya, kapasitas maksimum staking pool Cardano adalah 64 juta ADA (~US$77 juta). Dan saat ini, ada 3.219 staking pool ADA dengan rasio saham/pasokan 72,5%. Oleh karena itu, jika akuntansi validator Ethereum akan diterapkan pada ekosistem Cardano, Cardano akan memiliki 200rb validator (64 x 3.219).

Meskipun begitu, ekosistem Cardano dApp belum sepenuhnya online. Selain itu, Ethereum sudah menampung 2.948 dApp yang terkait dengan smart contract blockchain. Sedangkan, Cardano hanya memiliki 72 yang terdaftar. Di sisi lain, alasan di balik kesenjangan yang lebar antara kedua platform ini adalah karena Hoskinson mengambil pendekatan peer-review yang lebih kuat untuk pengembangan kodenya.

Namun, pasar kripto sendiri lah yang akan menentukan apakah praktik pengkodean yang lebih aman dan kuat akan membuahkan hasil. Di samping itu, jika kita mengaitkannya dengan output energi Cardano, tentunya hal tersebut tidak akan menarik perhatian dari komunitas pecinta lingkungan mana pun. Menurut Cardano Blockchain Insights, seluruh jaringannya hanya mengonsumsi 0,00282160 TWh. Jika kita bandingkan dengan Bitcoin, jumlah tersebut adalah konsumsi energi yang 46.400 kali lebih kecil.

Green Crypto #4: Algorand

Algorand (ALGO) adalah jaringan PoS open-source yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem dApp berdasarkan smart contract blockchain. Pengembang Algorand adalah seorang ilmuwan komputer MIT Silvio Micali. Fokus utama Algorand adalah memfasilitasi pembayaran yang hampir instan (near-instant). Secara spesifik, hal itu bisa mereka wujudkan dengan adanya kapasitas untuk memproses lebih dari 1.000 transaksi per detik (tps) dan mengeksekusinya dalam waktu kurang dari lima detik.

Dengan begitu, hal tersebut sudah jauh di depan standar Ethereum saat ini yang dapat memproses 14-17 tps di bawah lima menit. Algorand memungkinkan hal ini dengan mengintegrasikan struktur jaringan dua tingkat. Sementara itu, Ethereum bergantung pada jaringan skalabilitas layer 2, seperti Arbitrum, Polygon, Optimism, Loopring, Immutable X, dan lainnya. Algorand dikembangkan sejak awal dengan mempertimbangkan skalabilitas.

Energi

Silvio Micali mengatakan dalam pidato utamanya baru-baru ini, “Sementara beberapa blockchain mengkonsumsi energi sebanyak negara kecil, Algorand [hanya] mengkonsumsi sebanyak 10 rumah. Menjadi ramah lingkungan adalah kebanggaan kami dan kewajiban moral kami. Yang kurang beruntung adalah [mereka] yang lebih dulu menderita karena degradasi lingkungan – blockchain yang tidak ramah lingkungan adalah blockchain yang buruk. Titik. Algorand mengembangkan blockchain publik yang beroperasi dengan versi proof-of-stake yang mendorong konsumsi listrik hampir nol…pada tingkat fundamental,” kata Silvio Micali, “saya peduli dengan planet ini.”

Sama seperti Cardano, Algorand juga memiliki pasokan token tetap sebesar 10 miliar token ALGO. Namun, mengingat Algorand menggunakan variasi PoS – pure proof-of-stake (PPoS). Artinya, semua pemegang ALGO juga ikut serta mengamankan jaringan dan menerima biaya transaksi. Selain itu, ambang batas (threshold) minimumnya hanya 1 ALGO, sedangkan threshold Ethereum sangat tinggi, yaitu 32 ETH.

Dengan begitu, hal tersebut mampu secara drastis menurunkan hambatan masuk dan mendorong partisipasi pada jaringan. Namun, mereka juga masih harus mengamati apakah hal itu akan berdampak negatif terhadap keamanan jaringan dalam jangka panjang; mengingat stake yang lebih tinggi memerlukan perawatan yang lebih besar pula.

Selain itu, Algorand bahkan tidak menggunakan mekanisme slashing seperti halnya Ethereum yang dapat membuat pengguna bisa menentukan block mana yang buruk. Namun, hal itu tampaknya tidak menjadi masalah. CEO Climatetrade, Francisco Benedito, mengatakan bahwa Algorand adalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.

“Setelah menganalisis beberapa penyedia teknologi dan uji tuntas yang ketat, kami memilih Algorand sebagai infrastruktur blockchain untuk menyokong platform kami. Kami tidak [perlu] ragu, [karena] Algorand adalah solusi sempurna dengan arsitekturnya yang fleksibel, biaya transaksi yang rendah, dan skalabilitas kinerja transaksional. Selain itu, mereka adalah satu-satunya jaringan pure proof-of-stake (PPoS) dan kami memiliki visi bisnis yang selaras [dengannya],” jelas Benedito.

Mekanisme Slashing Algorand sebagai Green Crypto

Pada bulan September 2021, Algorand Foundation memperkenalkan proposal mekanisme slashing di mana pelaku kejahatan akan kehilangan 8% dari ALGO yang mereka jalankan dalam stake. Namun, hal itu gagal untuk mendukung sistem yang ada. Karena mereka hanya kehilangan reward yang didistribusikan tanpa mendapat sanksi lebih lanjut.

Seperti halnya jaringan blockchain PoS lainnya, konsumsi energi Algorand adalah negligible pada 0,000008 kWh per transaksi. Kemudian, pada April 2022, Algorand sudah memiliki kapitalisasi pasar sebanyak US$2 miliar dengan kurang dari 100 dApps. Di samping itu, beberapa di antaranya masih dalam tahap uji coba.

Di saat transisi Ethereum ke PoS akan mereka lakukan tahun ini dengan melakukan Merge, struktur dua tingkat terintegrasi (integrated two-tier) Algorand dan konsumsi energi yang rendah kemungkinan masih belum cukup untuk menjadi daya tarik jangka panjangnya.

Green Crypto #5: Stellar Lumens

Stellar Lumens (XLM) memiliki asal-usul yang sama dengan Ripple. Sebab, Jed McCaleb adalah orang yang mengembangkan kedua mata uang digital peer-to-peer (P2P) tersebut. Ketika Ripple lebih condong pada sisi institusional dari transfer uang dengan jaringan perbankan dan pemroses pembayarannya, Stellar justru berfokus pada layanan pembayaran individual yang granular.

Untuk mencapai tujuan itu, jaringan yang berdiri pada tahun 2014 tersebut mengoperasikan token XLM. Melalui uang P2P ini, mereka bertujuan untuk memfasilitasi pembayaran tanpa batas dengan biaya transaksi seminimal mungkin. Dengan kata lain, hal ini bisa membantu orang yang tidak memiliki rekening bank agar mereka dapat memasuki ekonomi digital dengan menciptakan pasar pengiriman uang yang terdesentralisasi. Hal itu dapat dilakukan asalkan mereka memiliki akses internet dasar dan smartphone yang mampu menampung dompet digital.

Meskipun blockchain Terra dan Tron sudah menyediakan layanan seperti itu dengan stablecoin, Lumens hanya bertindak sebagai perantara pengirim uang. Artinya, ketika pengguna A mengirim uang kepada pengguna B, pengguna tersebut dapat memilih mata uang yang berbeda dari yang akan pengguna B terima.

Mekanisme XLM sebagai Green Crypto

Jaringan Stellar mengubah mata uang asli menjadi XLM dan mencari pasangan perdagangan yang optimal untuk mengirimkan mata uang yang pengguna tuju. Anchor Stellar memungkinkan pertukaran itu karena mereka menyimpan deposit dan bahkan mengeluarkan kredit. Dengan semua Anchor yang ada dalam jaringan Stellar yang sama, transaksi bisa selesai dalam waktu kurang dari 5 detik. Serta hanya memakan biaya 0,00001 XLM (US$0,00000216).

Tanpa ragu, keunggulan ini menjadikan jaringan Stellar sebagai salah satu solusi yang paling hemat biaya untuk mentransfer uang. Selain itu, tidak ada penambangan atau staking yang terlibat karena Stellar Development Foundation (SDF) sudah mengontrol pasokan XLM. Pasokan XLM sendiri sudah ditetapkan sebesar 50 miliar.

Mereka tidak menggunakan PoS maupun PoW, tetapi menggunakan algoritma konsensusnya sendiri berdasarkan Federated Byzantine Agreement (FBA). Karena hal tersebut, mereka mendapat julukan Stellar Consensus Protocol (SCP). Di samping itu, Stellar Lumens (XLM) adalah jaringan lainnya yang memiliki konsumsi energi yang sangat rendah, yaitu hanya 0,00022 kWh per transaksi. Kemudian, sama seperti Ripple, Stellar telah memperoleh berbagai mitra besar yang memungkinkan jaringannya menyebar secara global. Di antaranya adalah IBM World Wire, CEX.io, Blockchain.com, MoneyGram, Circle, dan Flutterwave. Sedangkan, dengan Flutterwave sendiri, Stellar dikatakan ideal untuk transfer uang di antara negara-negara kawasan Afrika dan Eropa. Demikian juga dengan Blocknify yang dapat menggunakan jaringan Stellar untuk membuat notaris dokumen resmi. Saat ini, kapitalisasi pasar Stellar adalah US$5,3 miliar.

Artikel ini adalah bagian dari pembahasan e-book baru yang dapat kamu unduh gratis dari Be[In]Crypto, berjudul “Sustainability and Cryptocurrency: An Analysis.” Unduh di sini.

Punya pendapat yang ingin kamu sampaikan terkait green crypto atau kripto yang ramah lingkungan? Sampaikan kepada kami atau bergabunglah dalam diskusi di saluran Telegram kami. Kamu juga bisa tetap terhubung dengan kami di TikTok, Facebook, atau Twitter.

Exit mobile version