Bisnis  

Akuisisi Khyber Money Exchange, Future FinTech Genjot Pendapatan di Segmen Pengiriman Uang

Akuisisi Khyber Money Exchange, Future FinTech Genjot Pendapatan di Segmen Pengiriman Uang

cnbc-indonesia.com – Future FinTech, entitas pengembang aplikasi blockchain, mengaku baru saja menuntaskan akuisisi terhadap perusahaan pengiriman uang asal Inggris, yaitu Khyber Money Exchange. Mereka menutup kesepakatan ini pada 29 September lalu, tetapi baru diumumkan pada 3 Oktober kemarin.

Finalisasi akuisisi yang dilakukan oleh Future FinTech berjalan cukup panjang. Pasalnya, penandatanganan perjanjian definitifnya sudah dilakukan pada 1 September 2021, tapi baru pada 16 Agustus tahun ini, Financial Conduct Authority (FCA) memberikan restu atas transaksi tersebut.

Mereka menggelontorkan dana sekitar 685 ribu euro atau setara US$681,52 ribu untuk menguasai 100% saham Khyber Money Exchange. Dengan begitu, Future FinTech bisa lebih leluasa untuk melebarkan sayap bisnis, utamanya yang berhubungan dengan pengiriman uang.

Berbekal layanan Khyber Money Exchange yang mampu mendistribusikan uang ke seluruh dunia lewat berbagai channel mulai dari agen, portal online, aplikasi seluler, hingga lewat telepon; diharapkan akan memudahkan transformasi bisnis yang tengah dijalankan oleh Future FinTech.

Sampai dengan saat ini, Khyber Money Exchange sudah memiliki basis pengguna sebanyak 200 ribu yang tersebar di seluruh dunia. Mereka juga melayani seluruh transaksi pengiriman uang, baik itu yang memiliki rekening bank maupun tidak.

Chief Executive Officer (CEO) Future FinTech, Shanchun Huang, mengatakan bahwa penyelesaian akuisisi atas Khyber akan memperluas jejak dan jangkauan bisnis mereka. Future FinTech percaya bahwa aksi anorganik ini mampu memainkan peran penting dalam meletakkan dasar bagi internasionalisasi pendapatan mereka.

“Tujuan kami adalah menjadi perusahaan fintech yang terdiversifikasi. Kami rerus memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk kemudian mengintegrasikannya ke dalam satu platform secara komprehensif,” jelas Shanchun Huang.

Untuk dipahami, Future FinTech selama ini menawarkan solusi penyediaan platform pusat perbelanjaan online berbasis blockchain, yaitu Chain Cloud Mall (CCM). Selain itu, mereka pun menyediakan layanan pembiayaan rantai pasokan, manajemen aset, hingga layanan data pasar kripto. Mereka juga terlibat dalam pengembangan teknologi e-Commerce berbasis blockchain, penambangan kripto, layanan pengiriman uang, dan bisnis teknologi layanan keuangan.

Sinergi dengan Anak Usaha Visa

Future FinTech sepertinya tengah berupaya menggenjot pendapatan dari segmen bisnis pengiriman uang lintas batas ataupun remittance. Pasalnya, pada 12 September lalu, Future FinTech juga telah menjalin kerja sama dengan Currencycloud, yang merupakan entitas usaha dari Visa, untuk merilis aplikasi pengiriman uang.

Lewat kolaborasi ini, kedua perusahaan merilis aplikasi yang dinamakan Tempo. Mereka membidik market di wilayah Amerika Utara, Eropa, Australia, India, dan Filipina sebagai destinasi pengembangan bisnis.

Aplikasi Tempo sendiri merupakan platform pengiriman uang yang ditujukan bagi para imigran yang berbasis di Amerika Serikat (AS) untuk dapat dengan mudah melakukan transfer dana ke negara asal mereka.

“Dengan menggandeng Currencycloud, Future FinTech Labs dapat menyediakan dompet digital ragam mata uang bagi para pengguna dengan lebih mudah dan hemat biaya,” jelas Future FinTech.

Kripto Jadi Pilihan Terbaik untuk Pengiriman Uang

Keputusan Future FinTech untuk menggarap segmen pengiriman uang nampaknya selaras dengan kondisi pasar saat ini. Riset yang dilakukan oleh PYMNTS dan Stellar Development Foundation menyebutkan bahwa tingginya jumlah uang yang dikirim melalui platform tertentu membuat biaya pengiriman menjadi mahal.

Data itu menunjukkan bahwa konsumen di AS mengirim US$76 miliar setiap tahun ke berbagai negara. Dari 2.100 responden yang diteliti, terdapat fakta bahwa ada minat yang cukup tinggi dalam memanfaatkan mata uang kripto sebagai alat pengiriman uang.

“Berdasarkan 70% konsumen yang membayar biaya tambahan untuk pengiriman uang lintas batas, 41% di antaranya harus mengeluarkan biaya rata-rata sebesar 6,2%. Sementara itu, 28% lainnya mengatakan membayar biaya tetap yang rata-rata mencapai US$14,80,” ungkap riset tersebut.

Secara agregat, biaya pengiriman yang harus dikeluarkan oleh konsumen di AS mencapai US$3,5 miliar. Melihat besaran biaya yang harus dikeluarkan secara total, hal ini membuat banyak pihak melirik kripto sebagai solusi untuk pengiriman uang.

Terdapat 23% responden yang mewakili 8 juta orang dewasa yang sudah menggunakan kripto dalam pembayaran online dan 13% konsumen yang disurvei mengungkapkan bahwa metode pembayaran yang paling sering mereka gunakan untuk pengiriman uang lintas batas adalah kripto.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!