Asesmen Awal dan Pembelajaran Terdeferensiasi Disebut Percepat Pemulihan Pendidikan

Asesmen Awal dan Pembelajaran Terdeferensiasi Disebut Percepat Pemulihan Pendidikan

Jakarta: Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Iwan Syahril, mengatakan penerapan Kurikulum Merdeka semakin mempercepat pemulihan pendidikan nasional. Salah satunya, dengan menerapkan tahapan penting yaitu asesmen awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka.
 
“Maka akan berfokus terhadap peserta didik karena mengimplementasikan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai minat, kebutuhan, serta karakteristik siswa,” ujar Iwan dikutip dari Antara, Senin, 4 Juli 2022.
 
Iwan menuturan Kemendikbudristek memprioritaskan implementasi Kurikulum Merdeka untuk memulihkan pendidikan nasional dengan menggunakan Kurikulum Merdeka yang disesuaikan kondisi saat ini. Dia mengucapkan terima kasih kepada sekolah-sekolah dan guru yang telah menerapkan program itu.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dan berharap minat belajar siswa semakin tinggi sehingga kualitas pendidikan nasional turut meningkat,” kata Iwan.
 
Pendidik dari Sekolah Bina Cita Utama Palangka Raya Indriyati Herutami mengatakan dengan tahapan asesmen awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi menyempurnakan Kurikulum Merdeka. Sebab, berpusat kepada murid.
 
“Saat kita mengajarkan sesuatu kita perlu tahu murid kita sudah pada tahap mana, asesmen awal pembelajaran ini berguna untuk mengetahui proses belajar dari murid maupun tenaga didik,” kata dia.
 
Indriyati mengatakan tahapan ini mempermudah tenaga didik mengetahui metode yang tepat dan efektif untuk pembelajaran. Hal ini akan berdampak pada kemajuan pembelajaran siswa dan bagaimana tenaga guru memodifikasi pembelajaran agar disambut antusias oleh murid. Sehingga, siswa lebih semangat dan inisiatif dalam mengikuti pelajaran.
 
“Supaya mereka mencapai tujuan pembelajaran kita berikan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan para murid,” ujar Indriyati.
 
Kepala Sekolah Global Jayal Jakarta Oscarina Dewi Kusuma mengatakan dengan berfokus pada pembelajaran terdiferensi telah mengubah sudut pandang guru. Yakni sebelumnya berfokus pada hasil, sekarang berfokus pada murid.
 
Implementasi Kurikulum Merdeka berfokus pada asas kemerdekaan sehingga pendidik dapat menerapkan materi esensial dan fleksibel. Sebab, disesuaikan dengan minat, kebutuhan, serta karakteristik dari peserta didik.
 
Guru juga dapat mengakses modul pengajaran melalui platform Merdeka Belajar. Sehingga, guru menjadi lebih mudah dan optimal mempraktikkan teknik serta metode pengajaran yang efektif pada peserta didik.
 
Ada dua hal yang menjadi tahapan penting sebelum mengimplementasikan kurikulum merdeka, yaitu asesmen awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi. Guru diharapkan dapat mengumpulkan dan mengolah informasi untuk dapat mengelompokkan murid berdasarkan tingkat capaian dan kemampuan yang serupa dengan asesmen di awal pembelajaran.
 
Setelah mengetahui data dan kondisi murid, guru akan mudah memberikan intervensi pengajaran dan beragam aktivitas pembelajaran sesuai dengan level pembelajaran serta kemampuan dari peserta didik. Melalui implementasi Kurikulum Merdeka itu terdapat tiga pilihan bagi sekolah-sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka, yaitu IKM 1 (Mandiri Belajar), IKM 2 (Mandiri Berubah), dan IKM 3 (Mandiri Berbagi). Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kurikulum yang diterapkan sebelumnya.
 
Sekolah yang menyelenggarakan IKM 1 akan menggunakan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka dengan tetap menggunakan kurikulum 2013. Sekolah yang menerapkan IKM 2 akan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan memaksimalkan perangkat belajar yang telah tersedia di platform Merdeka Mengajar dan disesuaikan dengan jenjang sekolah masing-masing.
 
Adapun IKM 3, sekolah dan guru akan menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan perangkat ajar yang disiapkan secara mandiri untuk memaksimalkan belajar mengajar.
 

 

(REN)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan