cnbc-indonesia.com – Kanada kini dilanda ‘kiamat’ tenaga kerja. Ini karena ramai-ramai pekerja di negara itu ‘pensiun dini’.

Angkatan kerja memang masih tumbuh di Agustus. Tapi, pertumbuhan turun dibanding dua bulan sebelumnya dan tetap lebih kecil

“Puluhan ribu orang berhenti bekerja … Banyak dari itu dikaitkan dengan lebih banyak orang Kanada pensiun,” tulis Reuters mengutip data Statistics Canada, Senin (12/9/2022).

Rekor jumlah warga Kanada berusia 55-64 tahun yang pensiun dalam 12 bulan terakhir meningkat. Itu, mempercepat eksodus massal pekerja paling terampil Kanada.

Ekonom mengatakan hal ini membuat bisnis berebut sumber daya manusia. Ini mengancam menurunkan produktivitas yang memang telah merosot di negara itu.

“Kami tahu sejak lama bahwa gelombang ini akan datang, bahwa kita akan memasuki momen ini,” kata Kepala Ekonom Desjardins Group Jimmy Jean.

“Dan itu hanya akan meningkat di tahun-tahun mendatang,” tambahnya.

“Risiko yang kita miliki, dan sudah terlihat di beberapa sektor, adalah bahwa orang-orang pergi tanpa ada cukup pekerja muda untuk mengambil alih. Jadi, ada hilangnya modal manusia dan pengetahuan,” jelasnya.

Lalu apa yang terjadi?

Banyak yang mengaitkan ini dengan pandemi. Selama wabah datang, angka pensiun turun karena banyak warga Kanada memutuskan untuk tetap bekerja lebih lama.

Dengan dicabutnya pembatasan Covid-19, banyak yang bergegas untuk ‘menebus waktu yang hilang’. Mereka memilih untuk bepergian dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Kepergian ini, tambah analis, menyusutkan angkatan kerja. Itu akan membebani pertumbuhan ekonomi pada saat bank sentral secara agresif menaikkan suku bunga untuk melawan lonjakan inflasi, meningkatkan kekhawatiran bahwa ekonomi akan jatuh ke dalam resesi.

Bidang kesehatan misalnya terimbas paling parah. Sejak Mei, Kanada telah kehilangan 34.400 pekerjaan di bidang perawatan kesehatan.

“Ini masalah besar saat ini, karena kami memiliki begitu banyak yang pensiun secara tak terduga,” kata Presiden Asosiasi Perawat Ontario, Cathryn Hoy.

Industri trasportasi juga demikian. Banyak supir juga menua, seiring dua tahun pandemi.

“Semakin banyak pengemudi yang menua dan karena itu (mereka) pensiun atau memikirkan gaya hidup yang berbeda,” kata pemilik Trans-Canada College, sebuah perguruan tinggi karir yang melatih pengemudi truk pengangkut, Tony Reeder.

“Tanpa truk dan orang yang mengemudikan truk … barang akan disimpan di pelabuhan dan di gudang, bukan sampai ke tujuan di mana mereka dapat dikonsumsi,” tambahnya.

Mengutip data lengkap Statistik Kanada, ada 307.000 warga Kanada yang telah meninggalkan pekerjaan mereka untuk pensiun pada Agustus. Ini naik 31,8% dari satu tahun sebelumnya dan 12,5% lebih tinggi dari pada Agustus 2019.

Perlu diketahui, 620.000 orang Kanada memasuki kategori usia 65 than ke atas selama pandemi. Ini merupakan peningkatan 9,7% dalam kelompok populasi itu.

Sebelumnya masalah kurangnya tenaga kerja juga terjadi di Australia. Negeri Kanguru bahkan melonggarkan aturan migrasi permanen menjadi 195.000 dari tahun keuangan ini, atau meningkat 35.000 orang.

Sementara AS juga bergelut dengan fenomena ‘great resignation’. Mengutip Fox News, dan CNN, meski majikan menawarkan bonus dan gaji yang tinggi, pekerjaan yang ditawarkan tak kunjung mendapatkan staff.

Ini khususnya pada pekerjaan restoran, toko, hingga penerbangan mulai dari petugas bagas ke pilot dan pramugari. Kekurangan pekerja di tengah inflasi yang melonjak di atas membuat bisnis terancam tutup.